imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

INCO 1Q26: Laba Bersih +85% QoQ, Relatif Sejalan Ekspektasi

Stockbits take: Kenaikan ASP & Normalisasi Opex Topang Kinerja di Tengah Penurunan Volume Produksi

️ Vale Indonesia ($INCO) mencatat laba bersih US$44 juta pada 1Q26 (+85% QoQ, +100% YoY), relatif sejalan ekspektasi karena setara 20% estimasi 2026F konsensus. Hasil ini ditopang oleh kombinasi kenaikan harga jual ratarata (ASP) dan normalisasi opex setelah pencatatan oneoff pada 4Q25, meski volume penjualan mengalami penurunan seiring penghentian sementara operasional tambang akibat penundaan persetujuan RKAB pada awal tahun serta rebuilding furnace nickel matte .
️ Laba usaha pada 1Q26 mencapai US$42 juta (vs. 4Q25: US$3 juta, 1Q25: US$8 juta), dengan 3 pendorong utama: 1) lonjakan ASP dengan saprolit +44% QoQ dan nickel matte +15% QoQ; 2) normalisasi beban usaha menjadi US$9 juta (-68% QoQ) setelah adanya oneoff biaya restorasi lingkungan US$15 juta pada 4Q25; dan 3) akumulasi persediaan sebesar US$25 juta pada 1Q26 (vs. 4Q25: negatif US$7 juta), yang mencerminkan produksi melebihi penjualan, sehingga menahan beban pokok penjualan pada 1Q26.
️ Secara operasional, penjualan nickel matte turun ke level 13.727 ton pada 1Q26 (-25% QoQ, -20% YoY) dengan ASP US$14.213/ton (+15% QoQ, +19% YoY). Cash cost masih tercatat di level US$10.382/ton (+8% QoQ), lebih tinggi dibandingkan target 2026 dari manajemen di bawah level US$10.000/ton, sementara cash margin naik ke US$3.831/ton (+40% QoQ). Volume produksi juga turun ke level 13.620 ton (-20% QoQ, -20% YoY), setara 20% target produksi 2026 di level 67.645 ton dan sejalan dengan rencana rebuilding furnace sepanjang tahun.
️ Volume penjualan bijih saprolit mencapai 0,98 juta wmt pada 1Q26 (-31% QoQ, vs. 1Q25: 0,08 juta wmt) dengan ASP US$59/wmt (+44% QoQ, +86% YoY). Pendapatan saprolit tetap stabil di kisaran US$58 juta meski volume turun, karena kenaikan ASP mengkompensasi penurunan volume secara penuh. Penurunan volume secara kuartalan disebabkan oleh penundaan persetujuan RKAB 2026, di mana INCO sempat menghentikan kegiatan operasional pertambangan di seluruh wilayah konsesi pada awal Januari 2026 sebelum akhirnya memperoleh persetujuan dari Kementerian ESDM pada 15 Januari 2026.

Stockbits view: Positif Akselerasi Produksi Bijih Nikel pada Kuartal Berikutnya Memperkuat Kinerja Keuangan 2026

️ Secara keseluruhan, kami menilai realisasi laba bersih 1Q26 yang setara 20% estimasi 2026F konsensus masih tergolong baik, mempertimbangkan kombinasi seasonal weakness pada 1Q26 akibat rebuilding furnace dan disrupsi produksi akibat proses persetujuan RKAB.
️ Memasuki 2Q26, kami melihat manajemen INCO berpotensi mendorong produksi seoptimal mungkin setelah memperoleh izin RKAB dan memanfaatkan kenaikan harga bijih nikel, didukung oleh akumulasi persediaan US$25 juta pada 1Q26 yang siap direalisasi sebagai penjualan pada kuartalkuartal mendatang.
️ Beberapa hal yang perlu dimonitor: 1) realisasi penjualan bijih nikel, di mana INCO memiliki kuota RKAB ~8,1 juta wmt (vs. penjualan 1Q26: 0,98 juta wmt); 2) produksi nickel matte 67.645 ton untuk memanfaatkan kenaikan harga nikel LME, setelah realisasi pada 1Q26 yang setara 20% target 2026 kami nilai sejalan dengan ekspektasi akibat rebuilding furnace; dan 3) harga nikel global, serta cash cost yang saat ini masih lebih tinggi dibandingkan target manajemen.

________
Theodorus Melvin (@TheodorusMelvin)
Investment Analyst Stockbit

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy