imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Sektor yang Paling Babak Belur di Bursa Saat Ini Adalah Perbankan dan Konsumer Primer

Sektor yang paling babak belur saat ini sektor bank dan konsumer primer. Padahal dua sektor ini justru mesin laba besar di pasar. Ini yang bikin situasinya menarik. Market seperti sedang bilang, saya tahu kalian untung besar, tapi saya tetap kasih diskon. Sektor bank punya 14 saham yang PBV sekarang sudah di bawah PBV historis, sedangkan sektor konsumer primer bahkan lebih ramai lagi dengan 24 saham. Jadi ini bukan diskon tipis di satu dua nama. Ini sudah kelihatan seperti penekanan valuasi yang menyebar cukup luas di dua sektor yang seharusnya paling defensif dan paling gampang dijual ke investor saat market takut. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau mulai dari bank, skalanya memang gila. Empat bank besar saja sudah menunjukkan betapa besar laba sektor ini. PT Bank Central Asia Tbk ($BBCA) labanya sekitar Rp57,54 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp56,65 triliun, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp56,29 triliun, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp20,04 triliun. Di bawah itu masih ada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) Rp3,50 triliun, PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) Rp2,75 triliun, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) Rp1,66 triliun, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) Rp1,55 triliun, sampai nama-nama yang labanya ratusan miliar. Kalau ditotal, sektor bank dari daftar ini menghasilkan sekitar Rp203,38 triliun. Jadi sekitar 78% dari total laba seluruh sampel justru datang dari bank. Artinya, sektor paling banyak menghasilkan uang justru sedang diperdagangkan dengan PBV yang lebih rendah dari sejarahnya sendiri.

Ini yang bikin bank terlihat babak-belur. Bukan karena mereka tidak untung. Justru karena laba mereka besar tapi valuasinya ditekan. Harga BBCA Rp6.575, BBRI Rp3.370, BMRI Rp4.600, BBNI Rp3.680. Dari sisi nominal harga memang kelihatan tidak murah-murah amat, tetapi market sudah tidak mau membayar semahal dulu terhadap nilai buku mereka. Itu artinya investor sedang kasih haircut ke sektor bank. Biasanya ini terjadi saat pasar khawatir soal kualitas pertumbuhan laba, cost of fund, perlambatan kredit, risiko restrukturisasi, atau tekanan makro yang bisa bikin laba puncak sulit dipertahankan. Jadi market tidak sedang bilang bank jelek. Market sedang bilang laba besar hari ini belum tentu layak dibayar dengan premium setinggi masa lalu.

Yang lebih keras lagi justru konsumer primer. Jumlah saham yang PBV sekarang di bawah PBV historis mencapai 24 saham. Itu lebih banyak daripada bank. Jadi kalau bank menang telak dari sisi bobot laba, konsumer primer menang telak dari sisi luasnya tekanan valuasi. Ini memberi sinyal bahwa market sedang mendiskon sektor defensif secara cukup brutal. Padahal logika normalnya, saat ekonomi penuh ketidakpastian, investor biasanya lari ke sektor yang produknya tetap dibeli orang setiap hari. Tapi sekarang yang terjadi justru kebalik. Konsumer primer tetap mencetak laba, tetap punya demand yang relatif stabil, tetapi valuasinya tidak lagi dihargai semahal masa lalu.

Dari sudut pandang market, ada beberapa hal yang mungkin sedang dibaca. Pertama, pertumbuhan volume sudah tidak sekencang dulu, jadi laba mungkin masih besar tapi ruang ekspansinya mengecil. Kedua, margin bisa tertekan karena daya beli masyarakat tidak terlalu kuat, sementara biaya bahan baku, distribusi, atau promosi tetap tinggi. Ketiga, sektor defensif seperti bank dan konsumer primer sempat lama dihargai premium karena dianggap aman. Saat market mulai lapar bargain, justru saham-saham yang dulunya premium ini yang paling enak dipukul turun sampai kembali ke bawah valuasi historisnya. Jadi market sedang merevisi ekspektasi, bukan sekadar membuang saham jelek. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau dilihat secara statistik, ini makin jelas. Dari seluruh daftar saham yang PBV sekarang di bawah PBV historis, sektor bank memang paling dominan secara laba. Sektor infrastruktur ada di posisi kedua dengan sekitar Rp27,40 triliun, lalu properti sekitar Rp7,70 triliun, konsumer siklus sekitar Rp6,11 triliun, farmasi sekitar Rp6,02 triliun, dan barang baku sekitar Rp5,61 triliun. Tetapi tidak ada yang mendekati bank. Jadi sektor yang paling dihajar market sekarang justru sektor yang paling banyak menyumbang laba. Bank adalah contoh paling telak. Laba raksasa, tapi valuasi dipreteli. Konsumer primer juga begitu, hanya bedanya tekanannya lebih merata ke banyak saham, bukan cuma terkonsentrasi di beberapa nama besar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Inilah yang bikin kondisi sekarang menarik. Saat market sedang sangat tidak murah hati ke sektor laba besar, biasanya investor terbagi dua. Kelompok pertama melihat ini sebagai sinyal bahaya, artinya market tahu ada sesuatu yang belum selesai. Kelompok kedua melihat ini sebagai jendela diskon, karena sektor yang uangnya nyata justru sedang dijual lebih murah daripada kebiasaan historisnya. Dua-duanya bisa benar. Kalau laba ke depan stagnan atau turun, PBV rendah bisa jadi wajar. Tapi kalau laba tetap kokoh dan kekhawatiran market ternyata berlebihan, maka sektor-sektor ini justru sedang membuka ruang rerating.

Sektor bank itu sedang murah dalam bentuk yang berat dari sisi bobot laba. Konsumer primer sedang murah dalam bentuk yang luas dari sisi jumlah saham. Bank lebih mirip raksasa laba yang dihukum turun valuasinya. Konsumer primer lebih mirip sektor defensif yang diam-diam sedang dibuang ramai-ramai. Ini bukan pola market yang biasa muncul saat semuanya sehat. Ini pola market yang sedang sangat berhati-hati, bahkan cenderung terlalu dingin terhadap sektor-sktor yang sebenarnya paling banyak menghasilkan uang.

Kalau kondisi seperti ini berlanjut, investor tinggal pilih mau ikut takut bersama market, atau mulai bedah satu-satu saham yang laba dan neracanya masih kuat tapi PBV-nya sudah jatuh di bawah standar historis. Karena kalau sektor dengan laba besar saja sekarang sudah diperdagangkan di bawah PBV historis, itu berarti market bukan sedang pelit sedikit. Market sedang kasih diskon yang cukup dalam ke sektor-sktor inti.

It's not your financial advisor. Ini bukan rekomendasi penasihat investasi untuk jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy