Guidance 2026 MYOR: Pemulihan Margin dengan Pertumbuhan Penjualan Moderat
Mayora Indah ($MYOR) mengadakan earnings call 4Q25 pada Kamis (9/4). Berikut beberapa catatan utama kami:
Guidance 2026
• Margin laba kotor: 23–25% (vs. realisasi 2025: 22%)
• Pertumbuhan penjualan: +5–8% YoY (vs. realisasi 2025: +7% YoY)
• Laba bersih: Rp3,3–3,5 T, naik +15–22% YoY dari realisasi 2025
Menurut manajemen MYOR, guidance di atas sudah memperhitungkan kondisi harga minyak belakangan ini akibat perang AS–Iran — meski tidak merinci angka spesifik — dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di level 17.000. Manajemen menjelaskan bahwa pada aspek margin, kenaikan harga minyak berpotensi berdampak terutama pada biaya packaging — yang diasumsikan naik +30% — dan juga biaya freight. Namun, dampak negatif tersebut diyakini terkompensasi oleh harga beberapa komoditas bahan baku utama seperti coklat, kopi, dan gula yang sudah mulai ternormalisasi sejak 3Q25. Sementara itu, pada aspek penjualan, kenaikan harga energi berpotensi menekan daya beli, terutama di beberapa pasar ekspor utama perseroan. Terkait timing, manajemen menjelaskan margin laba kotor pada 1Q26 masih tinggi dan melebihi guidance 2026, sebelum mulai mengalami tekanan pada 2Q26.
▪️ Tren Penjualan Domestik dan Ekspor
Manajemen MYOR menyebut bahwa terdapat sedikit efek pergeseran Lebaran pada penjualan perseroan, sehingga penjualan domestik pada 4Q25 menunjukkan pertumbuhan yang tinggi (+18% YoY). Mengesampingkan efek tersebut, angka pertumbuhan penjualan yang ternormalisasi berada di kisaran +7–10% YoY pada 4Q25. Karena faktor tersebut serta beberapa faktor lain seperti pelarangan transportasi truk selama Lebaran yang lebih lama tahun ini (13 hari vs. 7 hari pada 2025) dan kesulitan container, manajemen memperkirakan penjualan pada 1Q26 akan relatif lebih lemah. Manajemen memproyeksikan pertumbuhan total penjualan pada 1Q26 akan relatif flat atau sedikit turun secara tahunan.
Dari pasar ekspor, manajemen mengakui terdapat pelemahan pertumbuhan dan sedang berusaha untuk kembali meningkatkan pertumbuhan, terutama di China dan Filipina. Menurut manajemen, produk perseroan di China yang fokus pada festive season mulai mengalami stagnant growth, sehingga MYOR akan mulai mendorong produk–produk daily consumption. Sementara di Filipina, manajemen menjelaskan pelemahan terjadi akibat kenaikan harga jual produk kopi belakangan ini — yang tidak hanya dilakukan oleh MYOR, tapi juga pemain–pemain lain — sehingga menyebabkan penurunan permintaan secara keseluruhan. MYOR berinisiatif untuk kembali menumbuhkan excitement pasar Filipina dengan meluncurkan produk–produk baru ke depannya. Perseroan telah meluncurkan Kopiko Supremo (instant soluble coffee) pada akhir 2025 dan rencananya akan kembali meluncurkan produk baru pada 3Q26. Inisiatif ini juga menjelaskan lonjakan biaya iklan dan promosi pada 4Q25.
📝 Stockbit’s view
Secara fundamental, kami menilai fase kinerja terburuk MYOR akibat tekanan margin telah terlewati pada 2Q25–3Q25. Dengan prospek margin yang lebih baik, berkurangnya beban keuangan (inisiatif pengurangan level utang) dan tren market share yang stabil dengan kecenderungan positif membuat prospek fundamental MYOR masih solid dan menjanjikan. Oleh karena itu, bagi investor jangka panjang, kami menilai pelemahan harga saham MYOR belakangan ini dapat dimanfaatkan untuk akumulasi. Satu aspek tantangan bagi MYOR yang perlu diperhatikan adalah keberhasilan perseroan untuk memulihkan kembali pertumbuhan di pasar ekspor.
Sementara itu, bagi investor yang lebih tactical, kami menilai pemulihan harga saham yang signifikan dalam waktu dekat membutuhkan kembalinya foreign inflow terlebih dahulu, di mana hal tersebut dipengaruhi oleh sentimen investor asing terhadap Indonesia.
______
Edi Chandren (@edichand)
Lead Investment Analyst Stockbit