imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Influencer Amerika, King of SPAC, Apakah King of Scam?

Entah ini benar atau tidak, banyak orang Amerika yang bilang King of SPAC, Chamath adalah penipu. Dan kata mereka, gaya menipu Chamath banyak ditiru oleh influencer di Indonesia yang doyan jualan scam product dan saham gorengan valuasi VOC juga. Pendapat seperti itu rawan kalau di Indonesia karena bisa kena UU ITE. Tapi kalau di Amerika, mereka bebas berpendapat selama ada buktinya. Kesan seperti itu muncul karena pola yang dimainkan Chamath terasa mirip banget sama Influencer di Indonesia. Sosoknya dibangun dulu setinggi langit. Dibikin kelihatan paling jago, paling sukses, paling visioner, dan paling peduli investor kecil. Setelah orang percaya, barulah massa itu digiring masuk ke produk yang dibungkus sangat meyakinkan. External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Di Amerika, Chamath Palihapitiya pernah dipuji habis-habisan sebagai Raja Special Purpose Acquisition Company (SPAC), seolah-olah dia ini pendekar yang datang buat melawan sistem Wall Street dan membuka peluang besar buat investor ritel. Tapi makin banyak orang merasa bahwa yang dijual sebenarnya bukan kualitas bisnis, melainkan cerita besar yang dipoles habis-habisan supaya kelihatan seperti tiket menuju masa depan.

Senjata utama yang bikin nama Chamath meledak adalah SPAC, yaitu perusahaan cangkang yang dibentuk untuk mengumpulkan uang dari publik lalu dipakai mengakuisisi perusahaan lain supaya bisa masuk bursa tanpa proses Initial Public Offering (IPO) tradisional. Secara bentuk, ini memang legal. Tapi yang bikin banyak orang naik pitam adalah cara barang ini dipasarkan. Semuanya dibikin terdengar seperti mimpi. Perusahaan target digambarkan seolah tinggal tunggu waktu buat meledak besar. Narasinya manis sekali. Masa depan digoreng habis-habisan. Padahal di belakang layar, struktur permainannya sudah berat sebelah dari awal. Sponsor SPAC biasanya sudah pegang jatah saham promosi dalam porsi besar, sering disebut promote sekitar 20%. Jadi bahkan kalau nanti harga saham ambruk, sponsor tetap punya bantalan yang jauh lebih nyaman dibanding investor publik yang beli di harga euforia. Di sinilah banyak orang merasa permainan ini busuk. Yang dikasih mimpi itu investor ritel, tapi yang duduk paling aman justru orang dalam. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Itu sebabnya Chamath banyak dikritik bukan cuma karena produk yang dia dorong, tapi karena cara dia menjualnya. Dia pintar sekali bikin dirinya terdengar seperti orang paling visioner di ruangan. Gaya bicaranya meyakinkan, percaya dirinya tinggi, narasinya canggih, dan semuanya dibalut aura seolah dia melihat masa depan lebih cepat daripada orang lain. Orang akhirnya sering masuk bukan karena benar-benar paham bisnis targetnya, tapi karena percaya pada figur yang bicara. Ini bahaya paling besar. Begitu orang jatuh cinta pada persona, logika biasanya mulai loyo. Yang dibeli bukan lagi perusahaan, tapi ilusi bahwa tokoh ini selalu benar. Dan dari situ jebakan mulai bekerja.

Kemarahan publik makin besar waktu beberapa SPAC yang pernah dikaitkan dengannya akhirnya ambles parah. Virgin Galactic, Clover Health, dan beberapa nama lain jadi simbol bagaimana hype bisa terbang tinggi lalu jatuh babak belur. Buat banyak orang, masalahnya bukan sekadar harga saham turun, karena itu memang risiko pasar. Yang bikin jijik adalah kesan bahwa waktu cerita masih panas, promosi jalan terus, tapi begitu banyak investor ritel nyangkut dan hartanya ludes, empati yang muncul malah terasa tipis. Chamath lalu makin sering dilihat bukan sebagai pahlawan investor kecil, tapi sebagai orang yang sangat jago menjual mimpi mahal ke publik, lalu meninggalkan mereka saat mimpi itu berubah jadi puing. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Citra itu makin jelek karena ada tuduhan bahwa dia menjual saham saat hype masih tinggi, sementara di depan publik tetap terlihat seperti pendukung setia. Buat orang yang sudah rugi besar, ini tentu terasa seperti ditinggal di tengah jalan. Reaksi publik jadi makin keras ketika dia sempat melontarkan komentar yang dianggap meremehkan investor yang rugi, seolah kerugian mereka masih bisa dianggap lucu karena bisa dipakai buat tax write-off. Buat orang biasa yang tabungannya hancur, komentar semacam itu bukan cuma dingin, tapi juga terasa menyebalkan. Ini yang membuat banyak orang langsung menghubungkan gaya Chamath dengan sebagian influencer di Indonesia yang habis jualan barang jelek, scam product, atau saham gorengan valuasi VOC, lalu tetap tampil santai, pamer gaya hidup, dan bertingkah seolah tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan.

Makanya pola seperti ini terasa sangat familiar. Di Indonesia juga ada figur yang bangun branding sebagai penyelamat, guru, atau orang dalam yang seolah punya akses ke peluang emas. Mereka bicara pakai gaya yakin sekali, sok dekat dengan rakyat kecil, lalu menjual barang yang kelihatannya eksklusif dan menjanjikan cuan besar. Kadang bentuknya produk keuangan aneh, kadang saham gorengan yang dihias dengan cerita masa depan luar biasa, padahal valuasinya sudah seperti warisan VOC, jauh dari logika bisnis normal. Orang diajak masuk bukan lewat analisis yang sehat, tapi lewat rasa percaya kepada tokohnya. Begitu barangnya jeblok, alasan mulai dicari-cari, narasi diputar, lalu pengikut yang telanjur nyangkut dibiarkan gigit jari.

Ada juga drama yang membuat citra Chamath makin rusak di mata publik. Salah satu investor yang merasa dirugikan sempat menantangnya di media sosial, lalu diminta menunjukkan bukti kerugian secara terbuka. Waktu bukti itu benar-benar muncul, situasinya malah berbalik tidak nyaman buat Chamath. Akhirnya ada cerita bahwa ia memberi bantuan dana pendidikan untuk anak investor tersebut. Tapi buat banyak orang, langkah seperti itu tidak otomatis membersihkan nama. Malah terlihat seperti upaya memadamkan kebakaran citra setelah situasinya telanjur viral. Jadi bukan soal nominal bantuannya, tapi soal rasa yang tertinggal. Kesannya, ketika publik belum ribut, empati itu tidak benar-benar muncul. Baru setelah tekanan membesar, langkah peredaman dilakukan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari kisah ini, yang paling penting sebenarnya sederhana. Bahaya terbesar di pasar itu sering bukan barang jelek semata, tapi orang yang terlalu jago bikin barang jelek kelihatan luar biasa. Bungkusnya keren, ceritanya besar, gayanya meyakinkan, dan pengikut dibuat merasa sedang ikut misi besar. Padahal bisa jadi mereka cuma dijadikan exit liquidity, dijadikan tenaga pendorong supaya pihak dalam bisa keluar di harga tinggi. Jadi kalau ada tokoh yang terlalu semangat menjual aset, investor sebaiknya jangan cuma terpesona oleh mulut manisnya. Lihat insentifnya. Dia untung dari kualitas bisnis yang benar-benar kuat, atau dia untung dari kemampuan menggiring orang lain masuk? Soalnya sering kali yang menghancurkan bukan sekadar saham jelek atau produk jelek, tapi kepercayaan yang diberikan kepada orang yang sangat licin memainkan cerita.

It's not your financial advisor. Ini bukan rekomendasi penasihat investasi untuk jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$CBRE $PIPA $ADRO

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy