TIME IN THE MARKET BEATS TIMING THE MARKET
(Kesabaran yang Membuahkan Hasil: Kisah Grace Groner)
Bayangkan tahun 1935.. Dunia baru saja dihantam Depresi Besar, kemiskinan ada di mana-mana, dan kepercayaan pada bursa saham berada di titik terendah.. Di tengah ketidakpastian itu, seorang sekretaris muda bernama Grace Groner membuat keputusan yang terlihat sepele: ia membeli 3 lembar saham di perusahaan tempatnya bekerja, Abbott Laboratories, seharga $180..
Bagi orang lain, $180 mungkin uang untuk bertahan hidup sebulan.. Bagi Grace, itu adalah benih yang tidak akan ia sentuh selama 75 tahun ke depan..
BERTAHAN MELALUI BADAI
Selama tujuh dekade berikutnya, Grace menyaksikan segalanya:
- Perang Dunia II yang mengguncang ekonomi global..
- Belasan kali resesi dan market crash yang membuat investor lain panik dan menjual aset mereka..
- Perubahan teknologi dari mesin ketik hingga era internet..
Namun, Grace punya satu rahasia: Ia tidak pernah menjualnya.. Setiap kali perusahaannya membagikan dividen, ia tidak membelanjakannya untuk baju mewah atau mobil baru.. Ia justru menggunakan uang itu untuk membeli kembali saham tambahan (Dividend Reinvestment).. Ia tetap hidup sederhana di apartemen satu kamar dan berjalan kaki ke mana-mana..
KEAJAIBAN YANG SUNYI
Tiga lembar saham aslinya mengalami berkali-kali stock split (pemecahan saham).. Karena ia terus menginvestasikan kembali dividennya, jumlah sahamnya membengkak menjadi ribuan lembar tanpa ia harus mengeluarkan modal baru dari kantongnya..
Saat Grace meninggal pada tahun 2010 di usia 100 tahun, pengacaranya terkejut bukan main.. Sekretaris yang hidup sangat hemat ini ternyata memiliki kekayaan senilai $7 juta (sekitar Rp110 miliar).. Seluruh harta tersebut ia sumbagkan untuk yayasan beasiswa bagi mahasiswa di almamaternya..
Grace tidak pernah mencoba menebak kapan pasar akan jatuh.. Ia tidak pernah pusing memikirkan berita ekonomi harian.. Ia hanya percaya pada pertumbuhan perusahaan yang ia kenal dan memberikan waktu bagi bunga berbunga (compounding) untuk bekerja..
Kisah Grace mengajarkan kita bahwa dalam investasi, kecerdasan emosional untuk tetap diam seringkali lebih berharga daripada kecerdasan teknis untuk menebak arah harga.. Karena pada akhirnya:
"Time in the market beats timing the market.."
#bukan ajakan jual beli saham tertentu
#selalu lakukan analisa mandiri
tags : $ADRO $MOLI $TAPG
