Cerita di balik cut-loss milyaran ….
Satu pelajaran penting yg mungkin ada guna buat pembaca, khususnya yg masih pemula seperti saya (under 2 taon di market).
‘Brokermologi’ tdk bisa berdiri sendiri, hanya krn avg kt lebih tinggi dan avg broker tertentu lebih rendah dan ketika harga turun kita putuskan utk avg down.
Saya berpikir avg down agar mendekati harga avg bandar.
Yg perlu di garis bawahi dari kesalahan saya adalah Average down hanya karena “mau mendekati bandar” adalah risk adding, bukan risk management.
Saya bold RISK ADDING!
Padahal struktur chart jangka pendek masih:
lower high
lower low
Saya tdk fokus pd ‘invalidasi thesis’ tapi malah
pd average pricez
Setelah cut-loss, begitu beban mental terangkat saya menemukan kesalahan saya kenapa rela hold lama dan bahkan terus avg down demi mendekati avg ‘bandar
Karena yang menentukan benar/salahnya trade bukan harga entry, tetapi:
✅Apakah market struktur masih valid?
Krn harga entry hanyalah “angka psikologis”, sementara struktur adalah “bukti bahwa narasi masih hidup”. 🫡
Ketika saya terus avg down utk “mendekati harga avg bandar” — saya justru ikut masuk lebih dalam ke jebakan distribusi MM.
Misal,
Kalau struktur sudah rusak, breakeven Rp240 atau Rp245 tetap rugi besar kalau harga terus jebol ke Rp180 atau Rp150.
Yang menentukan benar/salah ketika harga lagi turun adalah apakah thesis/narasi masih valid, bukan fokus avg down utk bisa mendekati avg harga dengan ‘bandar / MM’
Ini prinsip legenda seperti Jesse Livermore atau Paul Tudor Jones: “Cut your losers quickly, let your winners run.”
Bukan “average down sampai harga avg bandar”.
Smga bermanfaat.
$BBRI $CDIA
Nb. Satu diantara banyak capture saya CL yg nilainya jika ditotal milyaran.
