KAPAN KITA BERHAK MENDAPATKAN DIVIDEN?
Masih banyak yang bingung dan tanya di komen stream: “Kalau beli sekarang masih dapat dividen nggak?” atau “Kapan waktu terakhir beli supaya jatah dividen aman?”
Bahkan ada yang tanya: “Bang, kalau saya scalping, dapat dividen nggak?”
Nah, biar nggak tersesat dan malah terjebak Dividend Trap, teman-teman harus paham skema atau "kalender" pembagian dividen.
Ini tahapannya:
1. RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham)
Ini adalah pintu pertamanya. Pemegang saham perusahaan (emiten) berkumpul untuk menentukan berapa persen dari laba bersih yang mau dibagikan ke pemegang saham. Contoh: Seperti $BBCA hari ini (12/03/26). Hasil RUPS memutuskan nominal dividen per lembar sahamnya.
2. Pengumuman Jadwal Resmi
Setelah RUPS ketok palu, perusahaan akan merilis jadwal resmi. Di sinilah muncul jadwal penting yang wajib kamu catat:
• Cum Date (Cumulative Date): Ini adalah HARI TERAKHIR kamu harus punya sahamnya. Intinya: Kalau kamu mau dividen, kamu harus beli atau masih memegang saham tersebut sampai pasar tutup di hari Cum Date. Kalau kamu beli di pagi hari Cum Date dan kamu jual di sore hari yang sama, kamu TIDAK dapat dividen. Kenapa? Karena saat penutupan pasar, namamu sudah tidak ada di daftar pemegang saham.
• Ex Date (Expired Date): Ini adalah satu hari kerja setelah Cum Date. Jika kamu sudah pegang sahamnya sejak Cum Date, lalu kamu JUAL di hari Ex Date, kamu TETAP DAPAT dividennya. Jadi, jatah dividen dikunci di hari Cum Date. Tapi bersiaplah karena harga saham biasanya turun di Ex Date. Strategi ini dinamakan Dividend Capture biasa dilakukan oleh para pemburu dividen.
• Recording Date: Ini adalah proses administratif di mana KSEI mencatat nama-nama pemegang saham yang berhak. Kamu nggak perlu ngapa-ngapain di tahap ini, yang penting sudah "lolos" di Cum Date tadi.
• Payment Date (Pembayaran): Biasanya 2-3 minggu setelah Cum Date. Uang dividen akan otomatis masuk ke RDN (Rekening Dana Nasabah) kamu setelah dipotong pajak 10% (kecuali kamu lapor untuk re-investasi sesuai aturan pajak terbaru).
Nah, bicara soal hasil RUPS BBCA hari ini, di stream banyak pemegang saham BBCA yang kayaknya kurang puas. “Dividen BCA cuma segini? Kalah dong sama BBNI yang harganya jauh lebih murah tapi kasih dividen lebih gede!”.
Memang kalau kita cuma lihat nominal Rupiahnya, Rp281 (BCA) dibanding Rp335 (BBNI).
Tapi teman-teman.... di dunia saham, 'Besar/kecil' itu relatif. Jangan sampai kita bandingkan apel dengan jeruk
Begini cara lihatnya biar nggak salah paham:
• Dividend Yield (Persentase Keuntungan): Jangan lihat nominalnya saja, tapi bandingkan dengan harga belinya. $BBNI: Harganya lebih murah, tapi bagi dividen gede. Artinya Yield-nya tinggi (bisa 5-7%). Ini cocok buat pemburu passive income instan. Sementara BBCA harganya premium (mahal). Yield-nya kecil (sekitar 2%). Tapi, BCA itu "Growth Stock". Harga sahamnya naik terus tiap tahun. Jadi investor BCA biasanya mengejar kenaikan harga saham juga (Capital Gain), bukan cuma dividen.
• Karakter BUMN vs Swasta: Bank BUMN (BBNI, $BBRI, BMRI) punya kewajiban setor ke kas negara, jadi mereka biasanya bagi dividen lebih royal (Payout Ratio tinggi). Sedangkan BCA lebih suka menahan laba untuk memperkuat sistem teknologi dan ekspansi agar perusahaannya makin raksasa.
Kesimpulannya: Kalau kamu cari dividen tahunan yang gede, liriklah Bank BUMN. Tapi kalau kamu cari keamanan aset yang nilainya tumbuh stabil dalam 10 tahun ke depan, BCA rajanya.
Gimana? Sudah jelas atau masih ada yang bingung?
