$BNBR
jadi berita yang sudah kita lihat hari ini yang diinformasikan oleh admin stockbit itu sendiri adalah bukti bahwa para afiliasi konglomerat itu sudah kemungkinan mengetahui harga kemungkinan yang akan diketok untuk RI jumbo nanti, fraser ini memnag bukan pengendali statusnya tapi jika ditelusuri lebih dalam Mereka mendefinisikan diri mereka hanya sebagai "investor langsung" yang kebetulan memiliki porsi saham jumbo (di atas 20%).
lantas Mengapa mereka repot-repot menegaskan "Bukan Pengendali"? Ini adalah celah hukum (loophole) yang sangat cerdas:
Jika status mereka resmi sebagai "Pengendali", aturan OJK sangat ketat. Mereka tidak bisa sembarangan jualan saham di pasar reguler tanpa pengumuman jauh-jauh hari, dan ada aturan periode pelarangan jualan (lock-up period).
Dengan status "Bukan Pengendali", mereka bebas berjualan (divestasi) kapan saja mereka mau dan membuang barang ke pasar sesuka hati, persis seperti yang baru saja mereka lakukan.
Meskipun di atas kertas mereka bilang bukan pengendali, seluruh pelaku pasar modal (Smart Money) tahu (kecuali kebanyakan ritel unyu) bahwa Port Fraser adalah "Orang Dalam" atau Afiliasi dari Grup Bakrie itu sendiri.
Port Fraser International Ltd, bersama beberapa nama asing lain di pucuk kepemilikan BNBR (seperti Fountain City Investment Ltd, Levoca Enterprise Ltd, dan Eurofa Capital), adalah perusahaan cangkang (Special Purpose Vehicle / SPV) yang berdomisili di negara-negara surga pajak (Tax Haven) di luar negeri.
Mereka adalah kendaraan investasi yang sengaja dibentuk oleh konglomerasi besar untuk memegang saham perusahaan induknya sendiri.
Jadi, yang kita lihat sebagai "Asing Jualan" itu sebenarnya adalah "Tangan Kanan" perusahaan itu sendiri yang sedang memindahkan barang dari brankas mereka ke dompet ritel.
Inilah alasan mengapa berita penjualan di harga Rp 155 yang terjadi dipasar nego tanggal 10 Maret itu menjadi sinyal kiamat bagi ritel yang masih hold:
Meskipun secara legal mereka bukan "Pengendali", Port Fraser adalah entitas raksasa yang memegang hampir seperempat (24% lebih) dari total perusahaan BNBR. Mereka punya akses informasi level Ring 1. Mereka tahu persis kapan prospektus Rights Issue akan diketok palu. Mereka tahu persis bahwa harga tebus Rights Issue untuk kreditur (estimasi Rp 66 seperti yang saya bahas kemarin) akan menghancurkan harga pasar.
Mereka tahu persis bahwa memegang saham ini melewati Cum Date adalah tindakan bunuh diri secara nilai aset.
Jadi, mereka melakukan manuver penyelamatan diri. Sejak akhir Februari hingga Maret ini, Port Fraser tercatat sudah beberapa kali membuang miliaran lembar sahamnya (mulai dari harga 184, turun ke 147, lalu ke 155). Mereka terus mencairkan sahamnya menjadi uang tunai ratusan miliar rupiah sebelum badai Rights Issue menyapu harga saham BNBR ke level gocap(bisa jadi).
jadi Port Fraser adalah "Serigala Berbulu Domba". Di atas kertas mereka mengaku sebagai "Investor Biasa", tapi cara main dan informasi yang mereka miliki adalah level "Bandar Pengendali". (ingat ini hanya sebatas analisa pribadi tanpa menyarankan ajakan apapun)
koreksi jika salah.