Loh, bukan seperti itu ya seharusnya.
1. DXY (dollar index) akan bullish sampai adanya kepastian perang (biasanya awal perang dan bila inflasi diproyeksi naik).
2. Kenaikan oil akan mendorong inflasi US dan memaksa Fed manahan/menaikkan sukuk bunga. Dollar akan kuat, rupiah melemah. Investor akan mayoritas Risk Off
3. US 10 year sudah mengalami kenaikan Yield, market mulai price in. Data CPI yang paling penting itu CPI April (untuk maret). Kenapa? Market bisa repricing dampak perang dan inflasi.
4. Big Bank $BBRI $BBCA naik karena momentum dividen dan RUPS, sisanya seharusnya akan kembali tertekan.
5. Utang negara kita seharusnya naik Yieldnya karena ruang BI menurunkan sukuk bunga mengecil (IDR K.O lawan dollar).
6. Pertumbuhan ekonomi dunia akan berkurang karena kenaikkan oil. Berdampak juga di Indonesia
Jadi, ini momen kenaikkan yg disupport dividen. Setelah dividen akan koreksi sedikit (kalau labanya positif seperti $BMRI yang tumbuh double digit).