imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Fun fact buat newbie di saham2 big caps / bluechip bervaluasi murah: Bandar konsorsium itu gak bakal tebar2 fear buat nyari harga bawah di big caps berdividend.

Tanpa bandar support, harga akan cenderung turun dengan sendirinya karena kekuatan ritel gak akan bisa support secara berkepanjangan, boro2 dorong naik.

Bandar konsorsium selalu cicil masuk saat RSI Oversold < 40 & Stochastic extreme oversold < 20, kemudian dengan "sedikit dorongan likuiditas" seterusnya dilanjutkan oleh ritel2 FOMO, bandar konsorsium tinggal nunggu TP mendekati nominal dividend yg akan dibagikan.

Tinggal pilih aja, mau BBRI BMRI $BBNI, $TLKM $ASII UNTR?

Itulah salah satu penyebab, kenapa ritel2 yg masuk saham2 itu "sangkut" kemudian complain kena dividend trap dan jebakan valuasi, dan memaksa ritel2 untuk re-investasi dividend yg mereka terima untuk average down.

Begitu ritel2 memilih untuk cutloss dan menekan harganya turun (menciptakan kondisi oversold lagi), itulah momen bandar konsorsium masuk lagi dan mengulangi perbuatan yg sama.

They become big because they BUY LOW, SELL HIGH. Kebalikan dengan banyak ritel yg misalnya beli GOTO saat market cap Rp300T, cutlossnya pas market cap Rp100T.. misalnya aja.. tolong jgn tersinggung.

Ini perbuatan yg legal dan tidak ada hubungannya dengan etika. Ini bukan permainan zero-sum game karena asumsinya bandar konsorsium dapat profit -- ritel2 dapat dividend 🤣 Kalo kata mister Morgan, "Floating loss is not a loss if not realized. So keep averaging down because it's a really valuable stock."

Tolong di cek saja kebenarannya dari segi teknikal. Misal di BBRI deh dimana permainan itu udah paling jelas telihat. Sebab saya sudah advokasi loophole ini selama 1.5tahun nulis di SB. Supaya bisa kamu manfaatin ilmu teknikal ini daripada jadi dividend investor di saham2 tersebut.

===
Sebagai penulis yg modalnya masih kecil, saya cuma bisa IMHO (in my humble opinion).

Kenapa IMHO? Karena yg masuk saham2 big caps itu orang2 ternama, investor2 besar. Ya kan gak mungkin saya bilang mereka keliru. Porto saya mah cuman sekecil tainya cacing kalo dibandingkan mereka. I can't play their game..

So, IMHO

šŸ’Ž Kalo mau jadi dividend investor, cari emiten yg nominal dividendnya masih growing dengan Dividend Payout Ratio (DPR) kecil dibawah 50% (sisanya laba ditahan untuk ekspansi bisnis dan/atau ngurangin utang). Gak bagi dividend pun masuk akal bila bisnisnya ekspansi dgn efektif untuk Revenuenya tumbuh, yg penting valuasi current PE atau future PE masuk akal jika dibandingkan dengan sekedar bunga deposito & obligasi (untuk sekarang, angka future PE itu ada di 100Ć·2.8 = 35.71 max, kecuali saham2 teknologi yg bisa scale up secara efektif).

šŸ’Ž Gimana bisa tahu nominal dividendnya bakal growing?
• Semakin Revenuenya growing, semakin EPSnya jg growing, betul???
• Dari EPS itulah akan dibagikan sebagai Dividend per share (DPS) dengan DPR tertentu.
• Kalo kamu beli saham di harga Rp100 misalnya. Kemudian kamu dapat dividend Rp2 dengan Payout Ratio 30%. Tahun depannya dapat Rp3 karena bisnisnya tumbuh 50%. Tahun depannya lagi dapat Rp4,5. Tahun depannya lagi Rp6,75. Tahun depannya lagi bisnis sudah mulai mature, maka DPRnya dinaikin dari 30% menjadi 60%, maka kamu akan dapat dividend dari Rp6,75 menjadi Rp13,5! Dividend yieldnya berapa tuh?
• Pastikan industrinya cukup mendukung pertumbuhan kinerja emiten itu. Misalnya, JANGAN kita beli emiten yg jualan film laser disc karena zamannya sekarang sudah digital yg tersimpan dalam cloud.
• Kalo nemu yg sesuai kriteria tapi saldo labanya masih negatif, maka gak bisa bagi dividend. Hitung dulu, butuh berapa lama agar dia bisa mulai bagi dividend? Pada saat dia bisa bagi dividend, estimasi future PEnya di berapa? Masih masuk akal gak bila DPRnya 100%?

Hanya masalah WAKTU sampai saham2 jenis ini diburu oleh investor2 besar -- baik lokal maupun domestik. Hanya masalah waktu sampai harga saham2 ini didorong +600% oleh permintaan pasar.

Saya sudah lihat sendiri, saya sudah alami sendiri.

Ini bukan hanya soal dividend yield. Ini soal mencari saham2 "fast grower" yg akan mampu menjadi "stalwarts"; dari stalwarts menjadi bluechip.

Artinya dari market cap Rp500miliar mampu menjadi Rp3.3triliun (kenaikan +600%), dari small cap menjadi mid cap;
dari market cap Rp5triliun mampu menjadi Rp33triliun (kenaikan +600%), dari mid cap menjadi big cap 😁

Ini baaaru yg saya maksud dengan FUNDAMENTAL INVESTING. Bukan asal valuasi murah dibilang fundamental.. apaan? Itu namanya VALUASI, bukan fundamental 😵

Read more...
2013-2026 Stockbit Ā·AboutĀ·ContactHelpĀ·House RulesĀ·TermsĀ·Privacy