Ketegangan di Selat Hormuz mencapai titik didih pada Selasa (10/3/2026) setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeluarkan pernyataan keras menantang klaim Presiden AS Donald Trump. IRGC menegaskan bahwa Teheranlah yang akan menentukan kapan perang ini berakhir, sembari menekankan prinsip regional: "Keamanan adalah untuk semua, atau tidak ada keamanan bagi siapa pun."
IRGC menuduh Trump berbohong kepada publik mengenai keberadaan kapal perang AS di Selat Hormuz. Menurut Teheran, armada Amerika, termasuk kapal induk Gerald Ford, telah menjauh lebih dari 1.000 kilometer karena takut menjadi sasaran rudal Iran. Sebaliknya, Trump menyatakan keinginannya untuk tetap membuka selat tersebut dan bahkan mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali penuh atas jalur minyak vital itu.
Iran bersumpah tidak akan membiarkan satu liter minyak pun diekspor dari kawasan tersebut untuk musuh dan sekutunya. Menanggapi hal ini, Trump mengancam akan memberikan balasan 20 kali lipat lebih keras dan menghancurkan target-target Iran hingga tidak bisa dibangun kembali jika aliran minyak terganggu. "Kematian, api, dan kemarahan akan menimpa Iran," ancam Trump.
$ITMG $ELSA $AADI