imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Banyak investor bingung menentukan harga wajar saham, terutama untuk dua tipe perusahaan yang berbeda.

Padahal pendekatannya memang tidak bisa disamakan.

Untuk saham growth seperti GOTO yang belum rutin membayar dividen tapi memiliki potensi free cash flow yang besar, model yang lebih cocok digunakan adalah DCF (Discounted Cash Flow).

Dengan DCF kita memperkirakan arus kas perusahaan di masa depan, lalu mendiskontokannya ke nilai hari ini.

Sebaliknya untuk bluechip yang konsisten membayar dividen seperti BBRI, pendekatan yang sering dipakai adalah DDM (Dividend Discount Model).

Karena nilai perusahaan bisa diperkirakan dari dividen yang akan dibagikan di masa depan.

Yang menarik, kedua model ini sebenarnya bisa digunakan untuk cross-check valuasi.

Contoh:
DCF menghasilkan fair value Rp5.000
DDM menghasilkan fair value Rp4.800

Jika harga pasar berada jauh di bawah area tersebut, itu bisa menjadi indikasi saham sedang undervalue.

Masalahnya, menghitung model seperti ini secara manual sering cukup rumit karena perlu:

• forecast pertumbuhan
• proyeksi hingga beberapa tahun ke depan
• perhitungan terminal value

Karena itu di template valuasi 5 tahun Economstock, kedua pendekatan ini sudah disiapkan dalam satu framework.

Kita bisa:

✔ membuat forecast hingga 5 tahun ke depan
✔ menghitung terminal value perusahaan
✔ menggunakan pendekatan DCF maupun DDM untuk cross-check valuasi

Sehingga keputusan investasi tidak hanya berdasarkan feeling, tetapi lebih rasional berbasis data.
$BBCA $ANTM $ADRO

Read more...

1/2

testes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy