jadi awalnya gini he he terserah mau baca apa ngk
$KPIG awalnya begini kadang banyak retail asbun ngk tau sejarah jadi sangkut sangkutin,. jadi di bawa asik aja
KPIG memang memiliki sejarah panjang dengan Grup Bakrie sebelum akhirnya menjadi bagian utama dari MNC Group.
1. Era Awal (Grup Bakrie)
Dulu, aset-aset properti besar yang sekarang dikelola oleh KPIG (MNC Land) adalah milik Grup Bakrie. Proyek ikonik seperti Lido Resort di Sukabumi dan Nirwana Bali Resort di Tanah Lot awalnya dikembangkan dan dimiliki oleh keluarga Bakrie.
2. Proses Akuisisi oleh MNC (Tahun 2013-2014)
Sekitar tahun 2013, di tengah upaya restrukturisasi utang Grup Bakrie, Hary Tanoesoedibjo melalui MNC Group mulai mengambil alih aset-aset strategis tersebut.
Akuisisi Proyek: MNC mengambil alih proyek jalan tol, Lido Resort, dan Nirwana Bali Resort dari tangan Bakrie.
Perubahan Nama: Setelah akuisisi tersebut, entitas properti MNC (KPIG) menjadi jauh lebih besar karena mendapatkan aset-aset "kelas berat" peninggalan Bakrie.
3. Kondisi Sekarang (2025-2026)
Saat ini, KPIG sudah sepenuhnya identik dengan Hary Tanoe. Bahkan, per Juli 2025, perusahaan ini telah resmi berganti nama dari PT MNC Land Tbk menjadi PT MNC Tourism Indonesia Tbk untuk mempertegas fokus mereka di sektor pariwisata dan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Lido.
Jika menghubungkan ini dengan nama Tjomo Tjengundoro Tjeng atau isu Jiwasraya/WanaArtha:
Saham-saham yang dulu punya histori "pindah tangan" atau transaksi besar antar-konglomerat seringkali memiliki residu kepemilikan saham di masa lalu yang tercatat atas nama individu tertentu (termasuk nama-nama nominee).
Nama Tjomo muncul di KPIG kemungkinan besar sebagai bagian dari kepemilikan minoritas atau "sisa" dari jejaring investasi yang terbentuk saat transisi aset-aset besar ini terjadi di masa lampau.
Perselisihan antara Grup Bakrie dan Nathaniel (Nat) Rothschild adalah salah satu drama korporasi paling ikonik di pasar modal dunia yang melibatkan emiten BUMI (Bumi Resources).
1. Awal Mula: Kongsi "Vallar"
Pada tahun 2010, Nat Rothschild (keturunan keluarga bankir legendaris Inggris) bekerja sama dengan Grup Bakrie untuk membentuk entitas bernama Vallar Plc yang terdaftar di Bursa Saham London. Tujuannya adalah menjadikan Vallar sebagai kendaraan investasi raksasa di sektor pertambangan batu bara Indonesia (terutama BUMI dan Berau Coal). Vallar kemudian berganti nama menjadi Bumi Plc.
2. Pemicu Konflik (2011–2012)
Hubungan mulai retak ketika harga batu bara turun dan laporan keuangan perusahaan menunjukkan adanya "ketidakteraturan" finansial.
Tuduhan Rothschild: Nat menuduh manajemen Bakrie melakukan penyimpangan dana dan transparansi yang buruk di anak usaha (BUMI).
Serangan Balik Bakrie: Grup Bakrie merasa Nat mencoba mengambil alih kontrol perusahaan (hostile takeover) dan mengabaikan kedaulatan pemilik asli.
3. "Perang" di Media dan RUPS
Konflik ini sangat terbuka. Keduanya saling serang di media sosial (saat itu Twitter) dan media internasional. Puncaknya terjadi pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di London tahun 2013, di mana Nat Rothschild mencoba mendepak jajaran direksi yang berafiliasi dengan Bakrie, namun ia kalah suara.
4. Akhir Kasus: "Perceraian" (2014)
Setelah perseteruan panjang, kedua pihak sepakat untuk "bercerai" secara resmi pada Maret 2014:
Grup Bakrie keluar dari Bumi Plc: Bakrie membeli kembali (buyback) kepemilikan saham Bumi Plc di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai kurang lebih US$501 juta.
Pemisahan Aset: Bumi Plc kemudian berganti nama menjadi Asia Resource Minerals (ARMS) dan tidak lagi memiliki hubungan dengan operasional BUMI di Indonesia.
Status Sekarang (2026)
Kasus ini sudah selesai sepenuhnya secara legal dan administratif sejak tahun 2014. Namun, dampaknya masih terasa hingga sekarang:
BUMI: Saat ini BUMI sudah jauh bertransformasi, terutama setelah masuknya Grup Salim sebagai pengendali bersama Grup Bakrie pasca-restrukturisasi besar (Private Placement) beberapa tahun lalu.
Reputasi: Kasus ini sering menjadi studi banding bagi investor mengenai risiko investasi di perusahaan dengan tata kelola (GCG) yang kompleks dan risiko berpartner dengan entitas asing di bursa luar negeri.
Jadi, bagi Anda yang memantau BUMI, "hantu" Rothschild sudah tidak ada lagi di sana. Tantangan BUMI sekarang lebih kepada fluktuasi harga komoditas dan efisiensi operasional di bawah manajemen baru bersama Grup Salim.
Penjualan aset-aset properti dari Grup Bakrie ke MNC Group (KPIG) pada periode 2011–2013 memiliki hubungan yang sangat erat dengan krisis likuiditas dan beban utang yang dialami Bakrie akibat perseteruan dengan Rothschild serta penurunan harga komoditas saat itu.
Berikut adalah alasan mengapa aset tersebut akhirnya "mendarat" di tangan Hary Tanoesoedibjo (MNC):
1. Kebutuhan Dana Segar (Cash is King)
Saat berkonflik dengan Rothschild di London, Grup Bakrie membutuhkan dana besar untuk melakukan buyback (pembelian kembali) saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) agar bisa "bercerai" sepenuhnya dari Bumi Plc.
Untuk mendapatkan uang tunai dalam waktu cepat, Bakrie harus menjual aset-aset non-inti (non-core assets).
Sektor properti dan infrastruktur (jalan tol) adalah aset yang paling mudah diuangkan (dijual) kepada investor lokal yang punya kas melimpah saat itu, yaitu MNC Group.
2. Strategi Penyelamatan Aset
Daripada aset properti tersebut disita oleh kreditur atau jatuh ke tangan pihak asing di tengah sengketa, Bakrie memilih menjualnya kepada mitra strategis lokal.
MNC Group saat itu sedang agresif melakukan ekspansi ke sektor properti mewah dan pariwisata.
Penjualan ini saling menguntungkan (win-win): Bakrie dapat uang untuk menyelesaikan urusan dengan Rothschild dan utang lainnya, sementara MNC mendapatkan aset "matang" seperti Lido Resort dan Nirwana Bali Resort dengan harga kesepakatan yang strategis.
3. Pembersihan Portofolio
Bagi Bakrie, fokus utama mereka adalah Energi dan Tambang (BUMI, ENRG). Menjual unit properti (yang kemudian menjadi cikal bakal besarnya KPIG) dianggap sebagai langkah perampingan agar mereka bisa bertahan di bisnis utama mereka yang sedang digoyang oleh Rothschild.