Apakah $DMAS Bisa Bagi Dividen Dengan Anjloknya Laba?
Pertanyaan salah satu user Stockbit bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Ada user Stockbit yang tanya tentang potensi dividen DMAS karena dia khawatir DMAS akan sulit bagi dividen di 2026 ini akibat anjloknya laba. Kekhawatiran itu memang beralasan kalau kita lihat fakta LK Full Year 2025 DMAS. Bahkan kalau dibedah lebih teliti, masalahnya bukan cuma laba turun. Yang lebih mengganggu justru kasnya ikut menipis, arus kas operasi nyaris habis, dan arus kas bebas sudah masuk zona negatif. Jadi kalau investor berharap DMAS bisa tetap royal seperti tahun lalu, harapan itu memang perlu diturunkan dulu ke bumi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Secara laba, penurunannya memang tidak enak dilihat. Laba bersih turun 40% dari Rp 1,33 triliun menjadi Rp 800,3 miliar. Untuk emiten yang dikenal rajin tebar dividen, ini jelas bikin was-was. Tapi penurunan laba ini masih belum seburuk penurunan arus kas. Arus kas operasi atau cash flow from operations turun dari Rp 748,3 miliar menjadi cuma Rp 23,2 miliar. Ini penurunan yang jauh lebih parah daripada laba. Artinya, perusahaan masih bisa mencatat untung di laporan laba rugi, tetapi uang kas riil yang benar-benar masuk dari operasi hampir tidak ada. Begitu ditambah belanja modal atau capital expenditure sebesar Rp 71,3 miliar, arus kas bebas atau free cash flow langsung berubah negatif. Jadi 2025 memberi pesan yang keras. Laba masih ada, tapi kas untuk dibagikan sudah jauh lebih tipis.
Kalau dipersempit ke level per saham, kontrasnya malah makin terasa. Tahun 2024 masih cukup sehat. Earnings per share atau laba per saham di Rp 27,67 masih cukup sejalan dengan CFO per saham Rp 15,52 dan free cash flow per saham sekitar Rp 14,89. Bahkan kas per saham masih tebal di Rp 47,06. Tahun 2025 ceritanya berubah drastis. Earnings per share masih Rp 16,60, jadi sekilas kelihatan DMAS masih cukup untung. Tapi CFO per saham tinggal Rp 0,48 dan free cash flow per saham sudah negatif. Sementara kas per saham tinggal Rp 7,98. Jadi di sini ketahuan sekali bahwa laba akuntansi tidak benar-benar berubah menjadi kas. Yang membuat situasi makin terasa janggal, pada tahun yang sama DMAS justru membayar dividen Rp 29 per saham. Jadi dividen yang dibayar malah lebih besar dari laba per saham tahun berjalan, dan jauh lebih besar dari kas operasi per sahamnya.
Di sinilah letak akar kekhawatiran investor. Pada akhir 2025, cadangan kas riil DMAS sekitar Rp 384,7 miliar. Angka ini jelas jauh lebih kecil daripada laba bersih Rp 800,3 miliar. Jadi kalau ada yang bertanya kenapa perusahaan untung besar tapi kasnya tipis, jawabannya ada di empat titik utama. Pertama, perusahaan sudah lebih dulu menguras kas untuk membayar dividen jumbo Rp 1,39 triliun pada Mei 2025. Kedua, perusahaan melunasi utang bank jangka pendek Bank Mandiri Rp 500 miliar secara tunai pada April 2025. Ketiga, sebagian laba belum berubah jadi kas karena piutang usaha pihak ketiga naik dari nol menjadi Rp 212,5 miliar. Keempat, perusahaan juga menghabiskan Rp 310,4 miliar untuk membeli tanah baru. Jadi kas DMAS habis bukan karena uangnya lenyap tanpa jejak, tetapi karena dipakai untuk dividen masa lalu, pelunasan utang, pembelian tanah, dan sebagian lagi masih tertahan di piutang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau melihat titik ini, potensi dividen 2026 memang otomatis mengecil. Secara teori, perusahaan masih mungkin membagikan dividen karena retained earnings atau saldo laba ditahan masih ada, sekitar Rp 1,39 triliun. Jadi dari sisi hukum dan akuntansi, pembagian dividen tetap sah. Tetapi pasar tidak dibayar pakai teori akuntansi. Pasar dibayar pakai uang tunai. Dan uang tunai DMAS sekarang jelas jauh lebih seret. Kalau manajemen hanya mengandalkan sisa kas sekitar Rp 376,9 miliar sampai Rp 384,7 miliar tanpa mau mengganggu operasional dan tanpa menarik pendanaan baru, maka potensi dividen realistis memang kemungkinan ada di bawah Rp 7 per saham. Itu berarti turun sangat dalam dibanding Rp 29 per saham yang dibagikan sebelumnya.
Karena itu, kalau DMAS tetap ingin tampil royal dan membagikan dividen besar pada 2026, sumber dananya harus datang dari luar kas operasi normal 2025. Jalannya cuma beberapa. Bisa percepat pencairan piutang. Bisa dorong penjualan tanah dan persediaan lebih agresif supaya kas masuk lebih cepat. Bisa juga memakai sisa kas yang ada, tetapi itu bikin bantalan likuiditas makin tipis. Dan opsi yang paling sensitif adalah kembali menarik utang baru. Secara praktik, opsi terakhir ini memang mungkin saja terjadi kalau manajemen tetap ingin menjaga reputasi dividen, tetapi dari sudut pandang kualitas keuangan, dividen besar yang dibiayai utang jelas terasa kurang natural.
Jadi kekhawatiran investor itu bukan takut berlebihan. DMAS memang masih punya laba, masih punya retained earnings, dan secara legal masih bisa membagikan dividen. Tetapi kemampuan membayar dividen besar sudah jauh lebih terbatas karena kas menipis, arus kas operasi anjlok, dan arus kas bebas negatif. Dalam kondisi seperti ini, dividen tetap mungkin muncul, tetapi peluang dividen jumbo seperti sebelumnya memang kecil kecuali ada perbaikan kas yang nyata atau perusahaan memilih mencari sumber dana dari luar. Itu sebabnya, untuk tahun buku 2025, investor lebih masuk akal berharap dividen yang lebih kecil dan lebih konservatif daripada berharap DMAS mengulang kemurahan hati tahun lalu. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
š§¾ Kinerja
š¹ Laba bersih turun 40% jadi Rp 800,3 miliar
š¹ CFO anjlok dari Rp 748,3 miliar jadi Rp 23,2 miliar
š¹ FCF berubah negatif
āā«ļø Jadi masalahnya bukan cuma laba turun
āā«ļø Tapi kas operasi hampir habis
šø Kas dan dividen
š¹ Kas plus deposito turun dari Rp 2,26 triliun jadi Rp 384,7 miliar
š¹ Cash per share tinggal Rp 7,98
š¹ Tahun 2025 malah bayar dividen Rp 29 per saham
āā«ļø Jauh di atas CFO per share Rp 0,48
āā«ļø Ini tidak sehat kalau diulang
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
š§ Kenapa kas menipis
š¹ Bayar dividen Rp 1,39 triliun
š¹ Lunasi utang bank $BMRI Rp 500 miliar
š¹ Piutang naik jadi Rp 212,5 miliar
š¹ Beli tanah Rp 310,4 miliar
ā
Dividen masih bisa secara akuntansi
ā Dividen besar sulit secara kas
š¹ Kalau mau tetap royal
āā«ļø Harus jual aset
āā«ļø Cairkan piutang
āā«ļø Atau tarik utang baru
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7






