Sedikit ulasan mengenai laba $BNBR, benarkah sudah mencetak laba secara riil, dari operasional perusahaan, atau hanya akal2 an akuntansi?
Laba Neto PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp 502,74 miliar, mengalami lonjakan sebesar 49,70% dibandingkan tahun sebelumnya. Secara detil, sumber utama laba BNBR di tahun 2025 tidak berasal dari kinerja operasional atau bisnis intinya, melainkan murni ditopang oleh laba akuntansi dari aksi korporasi (Penghasilan Lain-lain)
Berikut adalah rincian detil sumber pembentuk laba BNBR di tahun 2025:
1. Laba Usaha (Kinerja Operasional Inti yang Menurun) Dari sisi operasional riil (seperti bisnis infrastruktur, manufaktur, dan fabrikasi), Laba Usaha BNBR sebenarnya menurun drastis sebesar 58,66% menjadi hanya Rp 116,86 miliar pada tahun 2025 (dibandingkan Rp 282,87 miliar di 2024). Penurunan ini terjadi karena turunnya Laba Bruto akibat pelemahan pendapatan secara konsolidasi, khususnya di entitas anak BMI Group, yang diperparah dengan meningkatnya beban umum dan administrasi sebesar Rp 49,5 miliar.
2. Penghasilan Lain-lain Neto (Penyumbang Laba Terbesar) Penyelamat dan pendongkrak utama laba bersih BNBR di tahun 2025 bersumber dari pos "Penghasilan Lain-lain - Neto" yang meroket hingga 279,25% menjadi Rp 401,96 miliar. Laba non-operasional ini merupakan "durian runtuh" dari rampungnya transaksi akuisisi jalan tol PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT), yang secara spesifik berasal dari dua pencatatan akuntansi:
Keuntungan Pengukuran Kembali Kepentingan Ekuitas (Rp 422,37 miliar): Sebelum akuisisi penuh, BNBR (melalui PT Bakrie Toll Indonesia/BTI) sudah memiliki kepemilikan 10% saham di CCT. Berdasarkan standar akuntansi, saat BNBR mengambil alih pengendalian mayoritas, kepemilikan saham lama yang 10% tersebut dinilai ulang (remeasured) sesuai nilai wajarnya saat ini oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Pengukuran kembali ini memunculkan keuntungan senilai Rp 422,37 miliar yang dicatat langsung ke laporan laba rugi perusahaan.
Keuntungan dari Pembelian Diskon / Gain on Bargain Purchase (Rp 320,12 miliar): BNBR berhasil membeli sisa saham CCT (dari PT Waskita Toll Road dan PT Sarana Multi Infrastruktur) dengan total harga pembayaran yang lebih murah dibandingkan dengan nilai wajar aset riil/kekayaan bersih CCT yang didapatkan. Selisih diskon pembelian ini wajib diakui langsung sebagai keuntungan sebesar Rp 320,12 miliar di dalam laba rugi.
Selain dua keuntungan masif tersebut, ada pula tambahan laba kurs sebesar Rp 14,00 miliar dan keuntungan penjualan aset tetap Rp 971 juta.
3. Pemotong Laba (Beban yang Menggerus Pendapatan) Total keuntungan raksasa dari akuisisi CCT yang mencapai lebih dari Rp 742 miliar tersebut kemudian terpotong oleh kerugian dan beban lain-lain, sehingga menyisakan laba neto akhir di angka Rp 502,74 miliar. Pemotong terbesar laba ini meliputi:
Beban Bunga dan Keuangan Neto: Tercatat memotong laba sebesar Rp 211,55 miliar. Ini adalah konsekuensi logis karena BNBR harus menarik pinjaman bank skala besar (seperti dari Bank Nobu, Bank Mayapada, dan pinjaman Hartman) untuk mendanai miliaran dana tunai demi mengeksekusi pengambilalihan saham CCT tersebut.
Penyisihan Penurunan Nilai Piutang: Memotong laba sebesar Rp 89,57 miliar.
Kesimpulan: Sumber utama Laba Bersih BNBR di tahun 2025 sepenuhnya disokong oleh rekayasa laba akuntansi berupa keuntungan revaluasi dan diskon beli atas aset jalan tol CCT senilai total Rp 742,49 miliar. Jika pos "laba semu" dari akuisisi ini ditiadakan, Laba Usaha BNBR (Rp 116,86 miliar) sebenarnya tidak akan cukup untuk menutupi tingginya tagihan Beban Bunga (Rp 211,55 miliar). Artinya, tanpa aksi korporasi akuisisi CCT ini, BNBR secara hitung-hitungan riil operasional akan mengalami kerugian bersih di tahun 2025.