$BNBR
akhirnya saya paham mengapa hari kamis dan jumat NFB nya BNBR ini masuk top 10 terus,, tapi setelah dilihat broksum tidak ada asing yang terlihat akumulasi, dan harga selalu ditutup di harga terendah dari opening atau previous nya hari tersebut. ya walaupun dipertengahan sesi harga dikerek naik lalu dibanting lagi.
Jadi, lonjakan NFB kemarin bukanlah institusi asing yang mau investasi murni ("mau cari cuan dari kenaikan harga"), melainkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan proses restrukturisasi utang ini. Mereka "mengamankan posisi" atau sedang melakukan crossing barang. (analisa)
Ternyata Dokumen Keterbukaan Informasi yang rilis tanggal 6 Maret ini mengonfirmasi adanya Rights Issue (PMHMETD V) Jumbo inilah yang memungkinkan penyebab harga selalu dibanting.
Dalam dokumen tersebut tertulis jelas:
Jumlah Saham: Maksimal 90.000.000.000 (90 Miliar) lembar saham baru. Ini jumlah yang sangat masif (dilusi raksasa).
Tujuan Dana: "Pembayaran kewajiban Perseroan dan/atau anak perusahaan kepada kreditur".
Ini kemungkinan besar adalah skenario Non-Preemptive Rights Issue (NPR) / Debt-to-Equity Swap. BNBR tidak punya uang tunai untuk bayar utang, jadi mereka "mencetak saham baru" untuk diberikan kepada kreditur sebagai ganti pelunasan utang.
oke jika Jika tujuannya Rights Issue, kenapa harga malah longsor ke 150-an?
PERTAMA menurut saya adalah Penyesuaian Harga Tebus (Exercise Price) Biasanya, harga pasar akan digiring mendekati harga kesepakatan konversi utang. Jika kesepakatan konversi utang ada di harga rendah (misal gocap atau harga par), maka pasar akan bereaksi negatif (turun) menyesuaikan valuasi tersebut.
KEDUA menurut saya adalah Panic Selling Ritel: Berita Rights Issue 90 Miliar lembar saham adalah berita buruk bagi pemegang saham ritel (dilusi kepemilikan sahammu akan tergerus habis jika tidak menebus). Ritel yang panik langsung buang barang namu asing bisa dengan mudah melahap para ritel tersebut.
analisa saya pribadi lebih ke Tunggu rilis Harga Pelaksanaan (Exercise Price).
jika Harga Pelaksanaan di atas harga pasar sekarang -> Ada potensi harga ditarik naik (dikerek) supaya ritel mau tebus.
Jika Harga Pelaksanaan di bawah (misal Rp50 - Rp100) -> Harga pasar berisiko terseret turun ke sana.
kesimpulan pribadi :
Karena ini murni permainan restrukturisasi utang bandar tingkat tinggi, risiko untuk ritel sangat besar. Sebaiknya wait and see sampai harga tebusnya rilis. Jangan masuk hanya karena melihat data NFB kemarin. (ini cuma analisa amatir dan jangan di ambil pusing)
馃ぃ 馃槤