Minyak Sudah nyentuh US$93 tapi Pemerintah Masih Ngomong “Kalau” dan MBG Lagi yang Disiapin Jadi Tumbal...
Lucunya begini..
Beberapa hari lalu Menkeu kita bilang kalau harga $OIL dunia tembus US$92 per barel maka defisit APBN bisa melebar sampai sekitar 3,6-3,7% PDB. Karena itu pemerintah katanya sudah menyiapkan berbagai langkah penyesuaian supaya defisit tetap di bawah 3%.
Salah satu yang disinyalir bakal dipangkas ya belanja program MBG.
Masalahnya sekarang satu..
Harga minyak itu bukan lagi asumsi diatas kertas. Di market global dia sudah sempat nyentuh US$93.
Artinya skenario yang tadinya dihitung di meja rapat itu sekarang sudah mulai kejadian di dunia nyata.
Tapi yang bikin agak geli justru narasinya.
Di satu sisi pemerintah bilang kondisi ini belum terlalu mengkhawatirkan karena Indonesia sudah sering menghadapi harga minyak yang lebih tinggi di masa lalu.
Di sisi lain mereka sudah mulai lempar ancaman pemangkasan belanja.
Logikanya jadi agak aneh...
Kalau memang santai, kenapa dari sekarang sudah bicara potong anggaran?
Kalau memang berpengalaman menghadapi minyak mahal, kenapa reaksi pertamanya malah nyari alasan yang bisa dikorbankan?
Dan seperti biasa, yang disebut duluan lagi-lagi MBG....
Padahal kalau dipikir dengan logika sederhana saja, pertanyaan publik sebenarnya gampang.
Kalau APBN bisa langsung gemetar hanya karena minyak naik belasan dolar berarti ada yang salah dengan struktur belanja negara.
Dan kalau memang harus ada yang dipangkas, kenapa bukan program MBG-nya sekalian yang dihentikan saja?
Program ini dari awal udah kelihatan banget bermasalah dan sangat mahalnya. Anggarannya sampe ratusan triliun sementara penerimaan negara sendiri tidak sedang dalam kondisi super kuat.
Jadinya sekarang kelihatan sekali pola berpikirnya...
Begitu ada tekanan global sedikit, entah minyak, kurs atau geopolitik, pemerintah langsung mulai cari ruang fiskal.
Dan yang paling gampang dijadikan bahan koreksi ya program yang baru diluncurkan itu.
Ironinya pemerintah juga seperti berada di posisi yang serba salah.
Mau dihentikan jadi terlalu politis..
Mau dipertahankan APBN malah jadi megap-megap..
Akhirnya keluarlah kalimat yang sangat khas dari birokrasi.
“Kalau perlu akan dipangkas”.
Padahal faktanya sekarang sederhana.
Harga minyak sudah lewat angka yang mereka jadikan batas simulasi tapi kebijakannya belum berubah apa-apa.
Yang berubah cuma cara ngomongnya saja supaya terlihat tetap tenang.
Ibarat rumah yang dapurnya sudah mulai ngebul sama asap kebakaran tapi tuan rumah masih bilang ke hadirin di ruang tamunya kalau semuanya masih aman-aman saja. Walaupun pada akhirnya cuma jadi omon-omon saja.. 🔥
Random tags: $BUMI $BIPI
1/2

