Satgas Transisi Energi. Kedengarannya Keren sih... Tapi Kok Bau Drama Lagi?
Pemerintah lagi bikin panggung baru. Kali ini soal percepatan transisi energi. Prabowo Subianto menunjuk Bahlil Lahadalia buat jadi ketua satgas yang katanya bakal ngebut mendorong konversi motor bensin jadi motor listrik. Target yang dilempar juga gak kaleng-kaleng. Sekitar 120 juta motor mau dialihin ke listrik.
Di atas kertas kedengarannya keren sih.. Visioner... Modern... Seolah Indonesia lagi lompat jauh ke masa depan.
Tapi kalau dipikir pakai logika sederhana, banyak yang mulai garuk kepala.
Program konversi motor listrik sebenarnya sudah jalan beberapa tahun. Hasilnya masih kecil banget. Angkanya aja belum seberapa dibanding total motor di Indonesia yang jumlahnya ratusan juta. Jadi ketika tiba-tiba muncul target 120 juta unit, orang jadi wajar kalau mikir ini serius dihitungnya atau cuma angka yang enak buat diumumin ke publik.
Masalah berikutnya soal infrastruktur. Motor listrik itu bukan cuma ganti mesin dari bensin ke baterai. Ekosistemnya panjang. Ada charging station, jaringan listrik, industri baterai sampai sistem daur ulangnya.
Sekarang aja tempat ngecas masih jarang. Di kota besar mungkin ada beberapa titik. Tapi coba keluar sedikit dari kota. Mau ngecas di mana? Kalau jutaan motor listrik tiba-tiba beredar, jaringan listrik nasional siap atau tidak juga belum jelas..
Yang bikin orang makin skeptis sebenarnya pola lama pemerintah. Kalau ada program besar yang kelihatannya ribet, biasanya jurus pamungkas yang keluar cuma satu saja. "Bikin satgas!".
Setiap ada masalah koordinasi antar kementerian, jawabannya satgas. Program macet sedikit, muncul satgas lagi. Padahal seringkali masalah utamanya bukan kurang tim. Masalahnya ada di regulasi yang tumpang tindih, kesiapan industri yang belum matang dan target yang dari awal sudah terlalu dipaksakan.
Satgas akhirnya lebih sering kelihatan seperti simbol keseriusan. Dan bukan jadi solusi dari akar masalahnya.
Ada satu hal lagi yang jarang diomongin terang-terangan. Soal subsidi energi. Kalau motor listrik makin didorong maka konsumsi bensin otomatis turun. Artinya beban subsidi BBM di APBN juga bisa ditekan.
Secara fiskal itu masuk akal. Negara memang ingin mengurangi beban subsidi. Tapi jangan sampai narasi transisi energi yang dijual ke publik seolah demi lingkungan padahal diam-diam juga jadi cara buat pelan-pelan mengurangi subsidi tanpa ngomong secara gamblang.
Jadi ketika pemerintah tiba-tiba bikin satgas dengan target yang sangat besar, wajar kalau banyak orang mulai bertanya-tanya.
Apakah ini benar-benar roadmap energi yang sudah matang atau cuma proyek kebijakan yang kelihatannya megah di atas kertas?
Kalau targetnya realistis, infrastrukturnya jelas, industrinya disiapkan dari awal, masyarakat pasti dukung. Tapi kalau polanya masih sama seperti sebelumnya, angka fantastis dulu baru detailnya menyusul.. ya jangan heran kalau banyak yang melihat ini bukan merupakan revolusi energi.
Lebih terasa kayak "babak baru drama kebijakan yang lagi dipentaskan".
Random tags: $ENRG $BUMI $BIPI
