imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

COMMUNICATION SERVICE INDUSTRY - Series 4: Telekomunikasi Modern Saat Ini Part 3 – Integrasi Telekomunikasi Modern
$TLKM, $WIFI, $INET

Saat ini, hampir semua telekomunikasi sudah beralih menjadi packet-switched berbasis IP menggantikan circuit-switch, penggunaan cloud menggantikan server fisik yang dikelola sendiri dan adanya SDN (software defined network) yaitu software pengelola jaringan menggantikan jaringan yang ditentukan langsung oleh hardware.

Telekomunikasi fixline, wireless dan satelit saling terintegrasi membentuk global network yang saling terhubung (lihat Gambar 1). Gambar 2 contoh teknisnya.

Pada poin 1, 2, 3 ini disebut Last mile / Access layer yang menghubungkan endpoint atau user layer dimana gadget kita berada dengan operator (sekarang lebih ke ISP / internet service provider) bisa melalui teknologi fixline (umumnya FTTx), wireless (umumnya 4G atau 5G yang terhubung ke core menggunakan fiber dibanding microwave) ataupun satelit Geo atau LEO seperti Starlink. Gadget ini bisa berupa smartphone, laptop, PC, IOT device, router pada rumah, telfon satelit dll. Tapi jangan lupa ada WiFi yang menggunakan gelombang radio (frekuensi 2,4 GHz hingga 5 GHz) untuk menghubungkan perangkat seperti HP, laptop, atau smart TV ke jaringan tanpa kabel fisik. Meskipun router WiFi terhubung ke internet menggunakan fixed line, hanya koneksi ke penggunanya saja yang merupakan nirkabel.
Pada poin 4, masing-masing jaringan baik no 1, 2, 3 akan terhubung ke sentral. Pada jaringan FTTx (nomor 1), ONT akan terhubung ke OLT yang ditempatkan pada STO/central office operator. STO ini masuk kedalam metro network (metro ethernet). Jaringan wireless dari BTS (mau itu 2G, 3G, 4G, 5G) juga terhubung ke metro network (metro ethernet). Begitupun pada jaringan melalui satelit, antenna gatewaynya terhubung ke metro network (metro ethernet) dengan kabel fiber optic.

Pada poin 5, terkumpulah berbagai trafik ribuan user (istilahnya metro aggregation site). Kenapa dibuat melingkar? Hal ini mengingat topologinya yang bersifat fiber ring sehingga tetap terkoneksi walau ada 1 link yang putus. Di jaringan nomor 5 ini ada central office yang dimiliki oleh ISP (corenya fixline), mobile core (ingat kan dari BTS, data akan melalui core dahulu), serta mini data center, internet exchange point dan POP (present of point) terutama di kota besar. Telkom Indonesia contohnya sudah mengembangkan model nomor 5 ini yang sering disebut “fixed mobile convergence” yang berarti 2G/4G/5G core, OLT, gateway satelit dalam satu jaringan. Penjelasan data center, internet exchange dan PoP nanti akan saya jelaskan.

Lanjut ke poin 6, trafik data selanjutnya dilanjutkan ke jaringan yang lebih besar yakni berskala nasional. Jaringan ini menghubungkan jaringan metro/city, data center untuk skala nasional dan internet exchange nasional dan selanjutnya untuk terhubung ke jaringan global misal ke Singapura. Beberapa perusahaan Indonesia memiliki asset ini seperti Telkom Indonesia, Moratelindo, Indosat ataupun milik pemerintah lewat BAKTI yakni Palapa Ring (Lihat gambar 3 untuk contoh fiber optic nasional Palapa Ring).

Pada poin 7, trafik data masuk ke global backbone menghubungkan telekomunikasi antar benua dan antar negara melewati kabel fiber optik skala ekstrem (Tbps) dengan teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing. Biasanya ini tersusun atas Global Tier-1 backbone dan submarine fiber yang membawa trafik jarak jauh skala besar. Lokasinya bisa lihat gambar 4. Network inilah yang menghubungkan trafik data ke data center raksasa yang berisi perusahaan/organisasi dengan server/database sangat besar seperti Google, Facebook, Microsoft, US Goverment. Bisa juga menghubungkan menyediakan data center raksasa untuk perusahaan web besar (Google, Facebook, dll) seperti Equinix. Perusahaan seperti Google, Netfix, Meta, Amazon bisa dibilang memiliki global backbonenya sendiri karena mereka sudah tidak mengandalkan global backbone milik pihak lain dan tidak perlu membeli IP transit untuk mencapai sebagian besar internet karena terhubung langsung ke ribuan jaringan lain melalui peering.

Nanti kita bahas lebih lanjut terkait peering dan transit karena hubungannya ke biaya.
Jadi ketika misal kita ingin membuka website YouTube lewat smartphone, maka flownya seperti ini:
User → BTS 4G/5G/ Fiber ONT → Metro Network  National Network  Global backbone → Data center Google di US → balik lagi. Umumnya begini. Namun perkembangan zaman agar lebih cepat lagi, server Google bisa saja ada di Indonesia sehingga data tidak perlu dialmbil dari server pusat di US. Pendistribusian jaringan server secara geografis ini kita sebut CDN (content Delivery Network) yang dapat menyimpan cache di berbagai lokasi server (PoP) di dunia.

Lalu lanjut, apa itu sebenarnya PoP yang dari tadi kita sebut terus, Internet exchange, dan data center?
Point of Presence (PoP) sebenarnya adalah istilah fungsi tempat dimana ISP atau penyedia jaringan. menyediakan akses masuk ke infrastrukturnya. Isi PoP ini apa? Sebuah PoP biasanya berisi beberapa server (misalnya router, switch, cache server, DNS server). PoP ini bisa berada di dalam data center dan lokasinya ditempat strategis pertemuan antar jaringan. Telkom Indonesia sendiri punya PoP di luar negeri seperti di Singapura, Tokyo, Frankfurt, LA. Mengapa? Karena ini ada hubungannya dengan pengurangan latensi ketika user ingin mengakses server di US misalnya tanpa hop yang panjang dan mengurangi redudansi jika satu route bermasalah.

Lalu apa itu internet exchange (IX)? Ini adalah fasilitas netral tempat banyak ISP bisa saling peering. Bentuk fisiknya berupa suatu switching besar agar banyak ISP bisa saling bertemu. Contohnya saja yaitu IIX milik asosiasi penyedia Internet di Indonesia. Ini bisa diibaratkan suatu pasar dimana ISP yang terdaftar sebagai anggota bisa saling bertemu dan melakukan barter data. Jika IX disuatu negara, maka mempengaruhi kualitas dan efisiensi internet dosmestik. Misal pengguna Telkomsel ingin mengakses website yang menggunakan ISP lain yang sama-sama di Jakarta, trafik harus keluar negeri yang ada IX (misal Singapura) untuk bertukar lalu balik ke Jakarta. Akibatnya latensi tinggi (browsing jadi lebih lambat) dan biaya bandwidth internasional membengkak sehingga layanan jadi lebih mahal. Latensi tinggi sangat berpengaruh ke streaming video dan game online. Atau menggunakan koneksi langsung (private peering) antar 2 ISP saja yang mana membuat investasi yang sangat besar, rumit dan harga internet sangat mahal.

Data center sendiri intinya fasilitas/bangunan yang menampung banyak server dan storage dengan fokus hosting dan penyimpanan data. Contohnya collocation center yang merupakan data center yang di sewa ke pihak ke-3.

Lanjut ke aspek generate revenue nya bagaimana di kesempatan lain. Terima Kasih.

Read more...

1/4

testestestes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy