[STUDI KASUS SAHAM KARW – CINDERELLA STORY YANG BERAKHIR PAHIT]

Beberapa waktu terakhir saya sempat kembali membaca timeline perjalanan saham $KARW

Menurut saya ini salah satu studi kasus yang sangat menarik di market kita. Sebuah saham yang naik dari sekitar 50 rupiah ke lebih dari 7.000 rupiah, lalu kembali jatuh ke 1000 rupiah hanya dalam waktu sekitar satu tahun.

Kalau kita hanya melihat chartnya saja, kelihatannya seperti cerita klasik saham gorengan. Tapi kalau ditarik mundur dan dilihat timeline corporate action-nya, ceritanya sebenarnya jauh lebih menarik.

Mari kita napak tilas sedikit.

---

Awalnya saham KARW ini bukan perusahaan logistik. Nama lamanya adalah PT Karwell Indonesia Tbk, perusahaan garment yang IPO sejak lama. Lalu pada tahun 2012 perusahaan ini diakuisisi oleh ICTSI Far East, bagian dari International Container Terminal Services Inc., operator terminal peti kemas besar asal Filipina.

Setelah akuisisi itu, nama perusahaan berubah menjadi PT ICTSI Jasa Prima Tbk dan bisnisnya banting setir dari pabrik baju menjadi jasa maritim.

Namun perjalanan bisnisnya tidak mulus.

Perusahaan ini hidup dengan utang afiliasi yang sangat besar. Untuk bertahan, perusahaan terus meminjam dana dari entitas yang masih satu grup. Akibatnya neraca perusahaan semakin berat.

Rugi akumulasi terus menumpuk. Ekuitas perusahaan bahkan menjadi negatif dalam jumlah yang sangat besar.

Singkat cerita, perusahaan ini sebenarnya sudah seperti shell company dengan fundamental yang sangat lemah.

Lalu masuklah babak baru di tahun 2024.



Pada Januari 2024 muncul keterbukaan informasi bahwa akan ada Conditional Share Sale and Purchase Agreement (CSPA).

Pihak yang membeli saham pengendali adalah PT Sarana Kelola Investa (SKI). Pada Februari 2024 transaksi tersebut resmi terjadi.

SKI membeli sekitar 471,3 juta saham atau sekitar 80,2% kepemilikan. Harga pembeliannya Sekitar 66 rupiah per saham.

Total dana yang dikeluarkan untuk mengakuisisi mayoritas perusahaan ini hanya sekitar 31 miliar rupiah. Di titik ini sebenarnya sudah mulai menarik.

Sebuah perusahaan dengan ekuitas negatif yang sangat besar… tiba-tiba diambil alih oleh investor baru.

Biasanya market langsung mulai berimajinasi. Dan memang itu yang terjadi.



Sejak kabar akuisisi muncul, harga saham KARW mulai bergerak.

Awal Januari 2024 masih di sekitar 50 rupiah. Lalu naik ke ke 100. Lalu naik lagi ke 160 dalam waktu sekitar satu bulan.

Bahkan pada 22 Februari 2024 saham KARW sempat disuspend oleh BEI karena kenaikannya yang terlalu cepat.



Tidak lama kemudian muncul informasi yang membuat market semakin euforia. Nama perusahaan diubah dari PT ICTSI Jasa Prima Tbk menjadi PT Meratus Jasa Prima Tbk.

Di sini mulai terkuak siapa sebenarnya pihak yang ada di balik akuisisi tersebut. Ternyata terkait dengan keluarga pemilik Meratus.

Bagi yang sering lihat kontainer di jalan atau di pelabuhan pasti familiar dengan nama Meratus.

Ini adalah salah satu grup logistik besar di Indonesia yang berbasis di Surabaya. Bisnisnya sudah berjalan sejak tahun 1957.

Mereka Jarang muncul di publik, tapi reputasinya sangat kuat di industri logistik.

Dan di sinilahbanyak investor mulai berspekulasi kalo aset-aset logistik Meratus yang bernilai triliunan rupiah akan dimasukkan ke dalam KARW melalui right issue atau inbreng aset

artinya KARW akan turnaround, perusahaan yang tadinya ekuitasnya negatif bisa berubah menjadi ekuitas positif.

Ini adalah turnaround story yang sangat seksi.

Pada April 2024 harga saham KARW sudah mencapai sekitar 320 rupiah.

Pada periode yang sama pengendali baru juga menjalankan Mandatory Tender Offer (MTO) sesuai aturan perubahan pengendali.

Secara regulasi semua berjalan normal. Tapi ekspektasi market sudah terlalu tinggi. Harga saham terus naik.

Terus naik. Dan terus naik.

Puncaknya terjadi pada 3 September 2024.

Harga saham KARW menyentuh sekitar 7.100 rupiah.

Dari 50 rupiah ke 7.100 rupiah. Kenaikan lebih dari 140 kali lipat.

Di titik ini hampir semua orang percaya cerita turnaround besar akan terjadi.

Market sedang berada di fase euforia penuh.



Pada Desember 2024 terjadi dua peristiwa penting.

Pertama, pengendali baru melalui PT Sarana Kelola Investa mulai menjual saham di pasar.

Tahap pertama mereka menjual sekitar 5,38 juta lembar saham di kisaran harga 6.600 – 5.700.

Lalu pada 16 Desember 2024 muncul klarifikasi dari manajemen.

Mereka menyampaikan bahwa perusahaan tidak memiliki rencana stock split, right issue, maupun penerbitan obligasi dalam waktu dekat.

Ini adalah momen yang sangat krusial.

Karena selama ini market menunggu satu hal: Right Issue dan injeksi aset Meratus => Turnaround

Ternyata tidak ada.

Reaksi market?

Brutal.

Harga saham KARW yang sebelumnya berada di sekitar 6.700 mulai jatuh.

Dalam waktu sekitar satu bulan saja, harga sahamnya turun hingga sekitar 1000 rupiah pada 16 Januari 2025. Penurunan lebih dari 85% dari puncaknya

Di tengah penurunan tersebut, pengendali juga tercatat kembali menjual saham sekitar 4,7 juta lembar di harga sekitar 2.250.



Kalau dilihat dari sisi ekonomi transaksi, ini bagian yang paling menarik.

Pengendali baru membeli 80% perusahaan dengan biaya sekitar 31 miliar rupiah.

Namun hanya dengan menjual kurang dari 2% saham di pasar, mereka sudah memperoleh sekitar 46,57 miliar rupiah.

Artinya biaya akuisisi sudah tertutup. Bahkan sudah mencatat keuntungan.

Sementara mereka masih tetap memegang mayoritas saham perusahaan.

Ini benar-benar contoh bagaimana ekspektasi pasar bisa menciptakan nilai yang luar biasa besar dalam waktu singkat.



Dari kasus KARW ini kita belajar satu hal penting.

Market sering kali tidak bergerak berdasarkan realita saat ini.

Market bergerak berdasarkan cerita tentang masa depan.

Selama cerita itu dipercaya banyak orang, harga bisa naik sangat tinggi.

Tapi ketika cerita itu berhenti berkembang, harga bisa jatuh sama cepatnya.

Dari 50 → 7.100 → 1000.

Sebuah Cinderella story yang akhirnya kembali ke realita.

-----

Lalu pertanyaannya, apakah $SMKM akan menjadi the next KARW? Menurut saya tidak. Akan saya kulik di postingan berikutnya

$BUMI

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy