imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Aluminium Naik +5% Pasca Eskalasi AS–Iran

Harga aluminium ditutup di US$3.296/MT pada Kamis (5/3), naik +5% sejak eskalasi konflik AS–Iran pada 28 Februari 2026 dan membawa penguatan YTD menjadi +10%. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan pasokan dari dua produsen besar: (1) Aluminium Bahrain (Alba), pemilik smelter terbesar di luar China, menghentikan pengiriman dan menyatakan force majeure akibat terganggunya pelayaran di Selat Hormuz; dan (2) Qatalum menghentikan operasi smelternya di Qatar akibat terputusnya pasokan gas, dengan perkiraan penghentian penuh pada akhir Maret dan waktu pemulihan 6–12 bulan. Sebagai konteks, 9% dari total produksi aluminium global melewati Selat Hormuz.

[Sumber: Reuters, Straits Times]

📝Stockbit's Commentary

Seperti yang dibahas di Unboxing Metals 101 [https://stockbit.com/post/28964965], UEA dan Bahrain merupakan negara surplus aluminium terbesar ke-4 dan ke-5 secara global. Kombinasi gangguan logistik dan berkurangnya kapasitas smelter di kawasan ini berpotensi menopang harga aluminium dalam jangka pendek dan menjadi sentimen positif bagi $ADMR, $ADRO (induk ADMR dengan kepemilikan 85%), dan $CITA melalui potensi kenaikan ASP aluminium. Perlu dicatat, ADMR dan CITA masing-masing memiliki 65% dan 12,5% saham di PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) yang sedang mengembangkan smelter berkapasitas 500.000 tpa (tahap pertama) dan ditargetkan naik hingga 1,5 juta tpa pada tahap berikutnya. Pada 2026, KAI menargetkan produksi 300.000 ton aluminium.

______
Theodorus Melvin (@TheodorusMelvin)
Investment Analyst Stockbit

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy