Lalu, bagaimana nasib Indonesia? Kondisi makro kita sedang berada di ujung tanduk. Berdasarkan peringatan dari Menteri Bahlil, cadangan BBM nasional saat ini diperkirakan hanya mampu bertahan selama 20 hari. Jika konflik berlarut-larut dan harga minyak terbang menembus $100 per barel, beban subsidi dipastikan akan meledak dan menjebol APBN kita. Skenario terburuknya, harga Pertalite bisa terpaksa dinaikkan hingga Rp 15.000 atau Rp 20.000 per liter, yang berpotensi memicu inflasi ekstrem dan membuat otoritas bursa melakukan penghentian perdagangan sementara (trading halt). Krisis rantai pasok ini bahkan sudah memakan korban di sektor riil, di mana raksasa petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terpaksa mengumumkan status force majeure karena kapal bahan bakunya gagal melintasi Selat Hormuz.
Cek pembahasan lengkapnya di video terbaru channel "Wawasan Cerdas"
$ADRO $ELSA $TPIA