Banyak orang salah kaprah menilai bahwa kalau perang emas bakal naik, padahal, tidak selalu seperti itu. Semua kembali kepada kepentingan dari perang tersebut.
Kepentingan kali ini adalah OIL atau MINYAK. Minyak yg tinggi bisa menyebabkan inflasi, jika inflasi suku bunga naik, maka biasanya bond juga naik. Emas itu aset yg tidak produktif, tidak memberikan hasil. Dan emas itu pair dengan USD airtnya klo USD menguat maka EMAS turun. Oleh karena itu institusi besar profit taking. Terlihat sejak minyak naik, bond us juga sudah naik hampir 5%.
So, makro ekonomi tidak sesimple itu, perang beli emas, ada masalah beli emas. Makro ekonomi kompleks, tidak semudah dan sesimple orang pikirkan.
Apakah perang akan berlangsung lama? Hampir bisa dipastikan perang tidak akan berakhir dalam waktu cepat. Kenapa? Ingat US sudah kuasai venezuela yg memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, artinya, US punya minyak berlimpah untuk subsidi negara nya sendiri. Apalagi, US baru baru aja memanfaatkan momentum kenaikan EMAS untuk mengatasi hutang nya. Skrg waktu nya US cari cuan dari jualan minyak dan gas.
Yg harus diperhatikan cuma 1 yaitu selat HORMUZ. Jika selat tersebut dibatasi atau ditutup maka negara yg bergantung pada timur tengah akan mengambil minyak gas lagi dari negara lain terutama US. Tujuan TRUMP memang memaksa negara2 lain beli minyak dan gas di US. Terbukti saham-saham minyak gas di US banyak teken kontrak dalam 1-2 minggu kemarin, byk negara2 besar cepat-cepat mengamankan pasokan.
Donald Trump memang jenius dalam berbisnis, ide-ide gelap yg membawa keuntungan bagi negara nya memang luar biasa.
Jadi pendapat dan pandangan kalian bagaimana?
$APEX $BRMS $ELSA