Investasi Teknologi Militer Dunia Cuan bagi Raksasa Global, Risiko "Zonk" bagi Kita lokal?

Dalam dunia investasi, data adalah panglima. Jika kita melihat postur anggaran 2024, Amerika Serikat dan Israel adalah pemegang saham mayoritas dalam industri "AI Militer". AS mengucurkan dana hampir US$ 1 triliun untuk militer, sementara Israel melakukan manuver ekstrim dengan mengalokasikan 20% belanja pemerintahnya demi urusan pertahanan. Angka ini bukan sekadar biaya perang, melainkan investasi R&D (Litbang) besar-besaran. Konflik di Gaza, dalam kacamata industri, telah menjadi "laboratorium lapangan" untuk menyempurnakan algoritma AI seperti Lavender dan Gospel. Data nyawa dan reruntuhan di sana dikonversi menjadi baris kode yang membuat sistem persenjataan mereka semakin "pintar" dan memiliki nilai jual tinggi di pasar global sebagai produk battle-proven.

Sebaliknya, posisi Indonesia saat ini masih berada di level "nasabah ritel" dengan modal cekak. Data menunjukkan pengeluaran militer kita hanya sekitar 4,6% dari total belanja pemerintah atau setara US$ 40 per kapita. Bandingkan dengan Israel yang menyentuh US$ 5.000 per orang. Karena keterbatasan modal riset, kita terjebak dalam pola konsumsi: membeli barang jadi dari vendor asing. Namun, sebagai investor, kita harus waspada terhadap risiko counterparty. Kasus Venezuela dan Iran adalah peringatan keras, ketika hubungan politik memburuk, vendor bisa melakukan remote shutdown. Senjata canggih yang kita beli mahal-mahal bisa seketika menjadi rongsokan tak berguna (unusable assets) hanya dengan satu klik tombol "blokir" dari pusat kendali mereka di luar negeri.

Inilah fenomena Penjajahan Digital yang harus kita antisipasi. Kita membayar mahal untuk teknologi yang "otaknya" tidak kita kuasai. Tanpa investasi serius pada talenta digital lokal dan kemandirian server, Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi teknologi bekas uji coba. Strategi "hilirisasi" tidak boleh hanya berhenti di tambang, tapi harus merambah ke teknologi pertahanan. Karena tahun 2026 ini, kedaulatan nggak cuma soal luas wilayah, tapi soal siapa yang pegang kendali atas source code sistemnya. Kalau kita terus-terusan cuma jadi "penyewa" dan nggak berani investasi besar di riset mandiri (R&D) serta talenta lokal, posisi kita sangat rawan. Kita harus berhenti cuma jadi konsumen teknologi, dan mulai bangun ekosistem sendiri.

Karena pada akhirnya, sejarah sudah membuktikan negara mana saja bisa dijadikan objek R&D selanjutnya jika tidak mandiri.

Disclaimer: data pengeluaran per kapita dan persentase PDB ini saya ambil dari laporan terbaru SIPRI dalam memetakan arus uang militer dunia. Meskipun angka-angka ini akurat, perlu diingat bahwa biaya perang seperti siber sering kali tidak tercatat secara transparan di anggaran publik, jadi tantangan aslinya bisa jauh lebih besar dari yang terlihat di atas kertas.

sumber: https://cutt.ly/EtERpd8d

$NANO $GLVA $TLKM

Read more...

1/4

testestestes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy