Dengan adanya konflik Timur Tengah yang memanas apalagi dengan kematian Ali Khamenei dan pemblokiran selat Hormuz, harga minyak dan gas pasti naik secara signifikan besok bahkan bisa saja melebihi 10% dan lebih jika ada infrastruktur minyak yang terganggu. Apa akibatnya?
1. Harga BBM pasti naik dan emiten2 di bidang transportasi udara seperti GIAA (Garuda Indonesia) akan dirugikan karena tekanan biaya yang besar alhasil bottom linenya bisa terancam.
2. Jika harga gas naik, harga batubara juga akan ikut naik, emiten2 produsen batubara seperti AADI (Adaro Andalan Indonesia) akan diuntungkan (jika harga bisa naik untuk waktu yang panjang seperti perang Russia-Ukraine).
3. Emiten2 di bisnis transportasi laut seperti SMDR (Samudra Indonesia) akan diuntungkan dengan naiknya freight rates dengan adanya pemblokiran di Red Sea dan Strait of Hormuz (kebetulan SMDR punya fleet container dan tanker dengan rute internasional termasuk di Timur Tengah).
4. Emiten di bidang renewable energy seperti $KEEN akan diuntungkan karena dengan naiknya biaya energi, sumber energi terbarukan yang tidak mengandalkan harga komoditas akan menjadi lebih kompetitif dan ini bisa mengakselerasi bantuan pemerintah untuk mengembangkan sektor renewable energy.
5. Sudah jelas emiten yang terlibat di industri migas secara langsung seperti ELSA dan $MEDC pasti diuntungkan.
6. Emiten yang terlibat dalam bisnis logam berharga seperti Emas dan Silver akan diuntungkan seperti $HRTA dan ANTM
Efek ke ekonomi Indonesia:
- Kalau memang konflik ini bertahan lama, fiscal condition negara Indonesia bisa terancam karena defisit kita pasti akan naik besar2an karena impor migas kita yang begitu besar. Takutnya ini bisa menciptakan tekanan dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, tinggal kita lihat nanti apa rencana Menkeu kita pak Purbaya untuk menciptakan "cushion" yang bisa menahan efek kenaikan harga energi.
- Bisa jadi momentum untuk sektor renewable karena suka tidak suka pemerintah harus memperbesar insentif untuk energi terbarukan dan mobil listrik kalau memang energy crisis ini menjadi begitu besar. Ini bisa jadi opportunity untuk emiten2 tertentu seperti IPCC yang diuntungkan dengan impor mobil listrik Cina tapi sangat merugikan untuk ASII dalam jangka panjang. Menurut saya pribadi, bisa saja pemerintah ke arah sini kalau efeknya terlalu fatal untuk neraca negara.
Extra information:
- Jangan FOMO, sekalipun akan ada banyak saham2 besok yang naik karena kenaikan harga energi kalau harga minyak turun karena adanya perdamaian atau ceasefire sementara akan terjadi take-profit yang besar dan harga akan normalisasi. Jadilah investor yang pintar dan perhatikan berita2 yang ada karena pergerakan geopolitik sekarang begitu cepat dan mengejutkan.
- Akan terjadi sell-off besok untuk banyak emiten apalagi yang dirugikan karena harga energi yang lebih tinggi, jangan panic sell. Situasi seperti ini pasti akan lewat dan untuk investor2 pintar yang mengerti emitennya ini kesempatan untuk menambah kepemilikan.