Kenapa emiten smelter seperti $INCO, $MBMA, dan NCKL lebih ramai transaksinya? Selain karena kapitalisasi pasarnya besar, tentu karena ada narasi hilirisasi di belakangnya. Ada cerita baterai, kendaraan listrik, downstream, value added, dan berbagai sentimen yang memang menarik bagi pasar.
Sementara emiten pure penambang seperti $DKFT, NICL, IFSH, NICE sering kali dipandang kurang menarik. Banyak yang beranggapan, “hanya jual ore, tidak punya smelter, tidak hilirisasi, berarti kurang prospektif.”
Apakah pandangan itu salah? Tidak juga.
Jika konteksnya tahun 2010–2020, saya pun masih bisa memahami pola pikir tersebut. Pada masa itu jumlah smelter masih terbatas, integrasi menjadi keunggulan kompetitif yang jelas, dan perusahaan yang melakukan hilirisasi memang terlihat lebih visioner.
Namun kondisi saat ini sudah berbeda.
Smelter di Indonesia jumlahnya sudah sangat banyak, dan tidak semuanya terintegrasi dengan tambang sendiri. Banyak yang murni perusahaan pengolahan dan tetap membutuhkan pasokan dari penambang lokal. Artinya, ketika jumlah smelter bertambah dan kebutuhan ore meningkat, maka posisi tawar justru berada di pihak yang memiliki cadangan dan produksi ore.
Karena itu, menurut saya narasi “tidak punya smelter berarti tidak prospektif” sudah tidak sepenuhnya relevan dengan kondisi industri saat ini.
Lalu kapan emiten seperti DKFT akan kembali dilirik?
Perkiraan saya, biasanya momentum itu muncul ketika mulai ada bocoran atau rilis laporan keuangan. Pada akhirnya, yang mampu mengubah persepsi bukan sekadar narasi hilirisasi, melainkan angka. Jika nanti terlihat bahwa margin penambang justru lebih tinggi dan arus kas lebih sehat, pasar bisa mulai menyadari bahwa tidak selalu perusahaan terintegrasi yang paling diuntungkan.
Tidak semua yang membawa label hilirisasi otomatis paling menguntungkan. Dalam kondisi tertentu, justru penambang yang menikmati margin lebih baik.
Namun ini hanya cara saya membaca situasi. Silakan masing-masing melakukan analisis sendiri.