$BBRI Rilis Laporan Keuangan Full Year 2025!
Laporan keuangan BBRI FY2025 resmi dirilis pada 26 Februari 2026 pukul 23.58. Angkanya menunjukkan laba bersih Rp57,13 triliun dengan EPS sekitar Rp373,8 per lembar. Secara tahunan memang ada penurunan dibanding periode sebelumnya, namun bukan penurunan yang dramatis. Kredit tetap tumbuh, aset meningkat, dan bisnis inti tetap berjalan solid. Ini bukan cerita lonjakan agresif, tetapi cerita stabilitas dalam fase yang lebih matang.
Di harga Rp3.950 per lembar, dengan EPS Rp373,8, PER berada di kisaran 10–11 kali. Untuk bank sebesar BBRI dengan basis mikro yang luas dan dominasi pasar yang kuat, valuasi ini tidak mahal, tetapi juga bukan diskon ekstrem. Pasar tampaknya sudah mengantisipasi perlambatan laba yang moderat. Harga saat ini mencerminkan ekspektasi yang lebih rasional, bukan euforia.
Sekarang masuk ke bagian yang paling ditunggu: dividen. Untuk tahun buku 2025, BBRI telah membagikan dividen interim sebesar Rp137 per lembar pada cum date 29 Desember 2025. Sebelumnya, pada 10 April 2025, dibagikan dividen final Rp208,4 per lembar untuk tahun buku sebelumnya. Dengan EPS 2025 sebesar Rp373,8 dan payout ratio mendekati 96%, maka secara matematis total dividen tahun buku 2025 berpotensi sekitar Rp359 per lembar.
Jika interim sudah Rp137, maka potensi sisa dividen final yang bisa dibagikan dari laba FY2025 berada di kisaran Rp220–225 per lembar. Ini tentu masih asumsi matematis sebelum RUPS memutuskan secara resmi, tetapi gambaran angkanya sudah cukup jelas. Dengan total dividen sekitar Rp359 dan harga Rp3.950, dividend yield kotor berada di kisaran ±9%. Angka ini sangat kompetitif untuk bank besar.
Namun payout ratio 96% adalah angka yang sangat tinggi untuk sektor perbankan. Hampir seluruh laba dibagikan kepada pemegang saham. Di satu sisi, ini kabar baik bagi pencari arus kas. Di sisi lain, ruang retensi laba untuk memperkuat modal dan menopang ekspansi menjadi lebih terbatas. Selama kualitas kredit terjaga dan pencadangan cukup konservatif, kebijakan ini masih bisa dipertahankan.
Dari laporan terlihat bahwa pencadangan meningkat dan arus kas operasi melemah dibanding tahun sebelumnya. Ini belum menjadi alarm, tetapi patut dicermati. Bank tetap harus menjaga keseimbangan antara membagi laba dan memperkuat fondasi permodalan. Jika siklus ekonomi memburuk dan laba tertekan, fleksibilitas akan menjadi lebih penting dibanding sekadar yield tinggi.
Artinya, daya tarik BBRI saat ini memang ada pada kombinasi valuasi yang wajar dan yield yang besar. Tetapi pertumbuhan dividen ke depan sangat bergantung pada pertumbuhan laba baru. Jika laba stagnan dan payout tetap tinggi, ruang kenaikan dividen akan semakin terbatas. Investor perlu melihat lebih jauh dari sekadar angka yield tahun ini.
Kesimpulannya, di harga Rp3.950 BBRI menawarkan potensi arus kas yang menarik dengan estimasi sisa final sekitar Rp220 per lembar berdasarkan perhitungan saat ini. Secara pendapatan, ini menggoda. Namun kualitas investasi jangka panjang tetap ditentukan oleh kemampuan bank menjaga laba dan kualitas aset 2–3 tahun ke depan. Yield tinggi hari ini penting, tetapi ketahanan laba adalah fondasi sesungguhnya.
$BMRI $BUMI
