@tradersonthebeach Ini poin yang fair dan gue nggak mau defensif. Faktanya hari ini Nikkei naik +0,15%, KOSPI naik +3%, MSCI Asia-Pacific ex-Japan naik +0,65%, bahkan Taiwan cetak rekor kelima berturut-turut. Kalau tarif Trump adalah biang keroknya, harusnya semua kena tapi yang kena cuma $IHSG. Jadi pertanyaannya legitimate ada yang lebih spesifik di Indonesia.
Gue revisi narasi sebelumnya. Tarif Trump bukan trigger utama hari ini itu faktor latar belakang yang memperburuk kondisi. Yang jadi trigger spesifik IHSG lebih ke masalah domestik yang sudah menumpuk, outflow asing yang sudah berjalan hampir sebulan dengan total Rp26,55 triliun keluar dari pasar modal Indonesia, Moody's yang bulan lalu menurunkan outlook kredit Indonesia jadi negatif gara-gara kekhawatiran terhadap fiskal dan transparansi Danantara, dan rupiah yang masih belum stabil di 16.758 per dolar sementara mata uang regional lain sudah lebih pulih.
Singkatnya bursa lain naik karena mereka punya story yang lebih bersih. Korea punya boom AI dan tech, Jepang punya corporate reform yang jalan, China punya stimulus. Indonesia? Lagi dihantui tanda tanya soal fiskal, sovereign outlook, dan political risk seputar Danantara dan itu yang bikin asing terus cabut meski globally sentimen sedang oke. Tarif Trump cuma jadi alasan yang nyaman untuk disebutin, tapi underlying problem-nya ada di dalam rumah sendiri.