$PNBS Berdasarkan data fundamental PNBS per Q4 2025 yang Tersedia di keystats, berikut adalah analisis fundamental.
Secara garis besar, PNBS sedang mengalami "Earnings Compression" yang cukup brutal meskipun top-line (pendapatan) relatif stabil. Terjadi anomali antara pertumbuhan aset dengan profitabilitas yang dihasilkan.
1. Income Statement Analysis: The Margin Squeeze
bedah satu per satu angka bottom-line yang mengkhawatirkan ini:
Net Income (TTM) & Annualised 20 B: Terjadi degradasi profitabilitas yang sangat signifikan. Dibandingkan dengan FY2024 89 B, laba bersih anjlok -77,4%.
Quarterly Performance (Q4 2025): Emiten mencatatkan Net Loss sebesar 23 B pada kuartal keempat saja. Ini adalah red flag utama. Penurunan laba kuartalan secara YoY mencapai -391,5%.
Revenue TTM 1,156 B: Secara revenue, emiten sebenarnya resilient dengan kenaikan tipis 3,44% YoY. Artinya, masalah utama bukan pada kemampuan menarik nasabah/pembiayaan, melainkan pada lonjakan beban operasional atau pembentukan CKPN
(Pencadangan Kerugian Penurunan Nilai) yang masif di akhir tahun.
EBITDA TTM 80 B: Angka ini terlihat kecil dibandingkan asetnya, menunjukkan inefisiensi biaya operasional (Cost to Income Ratio kemungkinan besar membengkak).
2. Valuation & Per Share Metrics: Overvalued Junk?
Valuasi PNBS saat ini berada di teritori yang sangat mahal jika dilihat dari kacamata earnings:
PE Ratio (TTM/Annualised: 100,83x): Ini adalah angka yang absurd untuk sektor perbankan syariah yang tidak sedang dalam fase hyper-growth. Investor membayar 100 kali lipat dari laba tahunan. Secara fundamental, ini mengindikasikan harga saham saat ini tidak didukung oleh fundamental yang sehat.
Price to Book Value (PBV: 0,68x): Secara sekilas, PBV di bawah 1 terlihat "murah" (diskon 32% dari nilai buku). Namun, dalam perbankan, PBV rendah dengan ROE rendah biasanya merupakan "Value Trap".
EPS (0,52): Turun tajam dari 2,28 di tahun sebelumnya. Earning power perusahaan tergerus hampir 80%.
3. Profitability Ratios: The Efficiency Crisis
Inilah bagian yang paling mengecewakan bagi pemegang saham:
Return on Equity (ROE: 0,67%): Ini sangat buruk. Ekuitas sebesar 2,97 Triliun hanya mampu menghasilkan return di bawah 1%. Sebagai perbandingan, menaruh uang di instrumen risk-free seperti deposito atau SBN jauh lebih menguntungkan daripada modal yang dikelola manajemen PNBS saat ini.
Return on Assets (ROA: 0,10%): Standard industri perbankan yang sehat biasanya di atas 1,5% - 2%. Angka 0,10% menunjukkan aset sebesar 19 Triliun tidak dikelola secara produktif.
Net Profit Margin (Q4: 5,66%): Meskipun margin kuartalan terlihat ada, namun secara akumulatif TTM, efisiensi operasional sangat rendah.
4. Balance Sheet & Cash Flow: Liquidity vs Solvability
Total Assets 19,118 B vs Total Equity 2,972 B : Struktur permodalan masih cukup solid dalam hal solvabilitas (Capital Adequacy), namun utilitas asetnya sangat rendah.
Cash from Operations TTM 151 B : Ada arus kas masuk dari operasional, yang berarti secara cash basis bank ini masih bernapas. Namun, angka ini tidak cukup kuat untuk mendorong ekspansi agresif.
Sharp Conclusion & Executive Summary
PNBS sedang terjebak dalam Low-Profitability Trap.
Analisis :
Earnings Miss: Penurunan laba bersih sebesar 77% YoY di tengah pendapatan yang naik 3% menunjukkan adanya leakage (kebocoran) besar di pos biaya. Kemungkinan besar adalah pembengkakan Non-Performing Financing (NPF) yang memaksa bank melakukan pencadangan (CKPN) besar-besaran di Q4 (rugi 23 B).
Valuation Disconnect: Saham diperdagangkan di PE 100x. Pasar mungkin masih memberikan "premium" karena faktor grup (Panin) atau spekulasi korporasi, tetapi secara murni operasional, harga ini tidak justifiable.
Efficiency Nightmare: ROE 0,67% adalah sinyal bahwa manajemen gagal mendistribusikan modal secara efisien.
Secara fundamental, emiten ini underperforming terhadap sektornya.
Disclaimer : Analisis ini merupakan opini/ pendapat pribadi berdasarkan data keystats yang tersedia saat ini, Bukan Rekomendasi Ajakan Jual/Beli.