imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BNII

Halo rekan-rekan investor! Mari kita bedah kinerja PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Kode Emiten: BNII) sepanjang tahun 2025. Laporan keuangan tahunan ini menunjukkan beberapa pergeseran fundamental yang sangat menarik untuk kita cermati sebagai bahan pertimbangan portofolio Anda.

**1. Lompatan Laba yang Signifikan**
Kabar gembira pertama datang dari sisi profitabilitas. BNII berhasil mencetak laba tahun berjalan sebesar Rp1,7 triliun pada tahun 2025, melonjak tajam dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp1,19 triliun. Jika kita lihat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, angkanya naik menjadi Rp1,65 triliun dari sebelumnya Rp1,11 triliun. Hal ini langsung berdampak positif pada Laba Per Saham (EPS) dasar yang naik meyakinkan dari Rp14,64 menjadi Rp21,75 per lembar saham. Kenaikan profitabilitas ini turut didukung oleh pendapatan bunga yang tumbuh menjadi Rp13,2 triliun di tahun 2025.

**2. Kualitas Aset Semakin Sehat**
Sebagai investor bank, kita wajib mengecek rasio kredit macet. BNII menunjukkan perbaikan luar biasa pada manajemen risikonya. Rasio pembiayaan bermasalah (Non-performing financing) secara bruto turun dari 2,68% pada 2024 menjadi 2,17% pada 2025. NPL neto juga membaik dari 1,42% menjadi 1,31%. Ini adalah sinyal bahwa manajemen semakin hati-hati dan efisien dalam menyalurkan kredit serta mengelola aset bermasalah.

**3. Penguatan Modal (Ekuitas)**
Kekuatan modal perusahaan meningkat dari Rp31,2 triliun menjadi Rp33,08 triliun pada tahun 2025. Peningkatan ekuitas ini memberikan bantalan yang lebih tebal bagi bank untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan memberikan ruang yang lebih luas untuk ekspansi di masa depan.

**4. Tantangan: Penurunan Aset dan Penyaluran Kredit**
Di balik lompatan laba, ada kondisi teknis yang harus Anda perhatikan secara seksama. Total aset BNII justru menyusut dari Rp197,17 triliun di 2024 menjadi Rp193,71 triliun di 2025. Penurunan ukuran aset ini sejalan dengan turunnya penyaluran pinjaman kepada pihak ketiga, yang merosot dari Rp120,24 triliun menjadi Rp115,91 triliun. Selain itu, liabilitas juga tereduksi dari Rp165,97 triliun menjadi Rp160,63 triliun, yang salah satunya didorong oleh penyusutan nilai deposito berjangka pihak ketiga dari Rp56,01 triliun menjadi Rp49,24 triliun. Ini mengindikasikan bahwa bank kemungkinan besar menempuh strategi lebih selektif dalam menyalurkan pinjaman untuk memprioritaskan kualitas aset ketimbang mengejar volume pertumbuhan secara agresif.

**Arahan Mentor:**
Secara keseluruhan, BNII di tahun 2025 menampilkan profil bank yang lebih efisien dan jauh lebih menguntungkan, meskipun ukurannya secara aset sedikit menyusut. Penurunan rasio NPL dan lonjakan EPS adalah indikasi jelas bahwa fokus manajemen beralih pada kualitas dan profitabilitas riil. Bagi Anda yang berorientasi nilai (*value investor*), fundamental seperti ini menawarkan pijakan yang sangat solid.

Meskipun demikian, terus pantau bagaimana strategi direksi di kuartal berikutnya, khususnya terkait kemampuan mereka dalam menggenjot kembali pertumbuhan kredit pihak ketiga. Jika mereka bisa membalikkan tren penurunan penyaluran pinjaman ini sambil tetap mempertahankan NPL di level yang rendah, saham BNII bisa menjadi kuda hitam yang sangat menjanjikan di sektor perbankan. Ingat, tetap rasional, perhatikan valuasi saat masuk, dan disiplin dengan *money management* Anda!

https://cutt.ly/HtWAcmc9

RANDOM TAG $NISP $BNGA

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy