$TINS
👀 Timah: Polri Tangkap Penyelundupan Rp22 T; Outlook 2026
/February 25, 2026 by Stockbit Snips
Bloomberg Technoz melaporkan bahwa Bareskrim Polri telah menangkap 11 tersangka dugaan tindak pidana penambangan dan penyelundupan timah ilegal dari Bangka Belitung ke Malaysia. Direktur Tindak Pidana Tertentu Polri, Mohammad Irhamni, mengatakan bahwa para tersangka diduga menyelundupkan 120.000 ton timah ilegal per tahun ke Malaysia, dengan perkiraan nilai total seluruh timah tersebut mencapai Rp22 T.
Penangkapan para tersangka tersebut melanjutkan pengawasan sektor timah yang dilakukan oleh pemerintah sejak tahun lalu, di mana Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2025 memerintahkan pihak berwenang untuk menutup jalur penyelundupan timah yang ditambang secara ilegal dari 1.000 lokasi penambangan di Bangka Belitung.
Hal ini ditindaklanjuti oleh Timah ($TINS) yang memperbolehkan penambang rakyat untuk menambang di wilayah IUP perseroan, asalkan hasilnya dijual ke TINS dengan harga Rp300/kg untuk kadar Sn 70%.
Ekspektasi pengetatan pasokan dari penindakan tambang ilegal di Indonesia telah mendorong harga timah di LME melonjak ke level US$50.003/ton per 25 Februari 2026, naik +9,5% WoW dan +24% YTD. Sebagai konteks, Indonesia merupakan negara dengan surplus perdagangan timah terbesar di dunia pada 2024 yakni sebesar US$1,4 miliar, sehingga gangguan produksi di Indonesia berdampak signifikan terhadap keseimbangan supply–demand global.
Di level korporasi, TINS mencatat produksi logam sebesar 10.855 ton Sn selama 9M25 (-25% YoY), baru memenuhi 50% target RKAP 2025 di level 21.500 ton Sn. Penurunan ini disebabkan oleh kegagalan pembukaan 3 tambang baru — yakni, Laut Rias, Briga, Oliver — akibat penolakan masyarakat dan keterlambatan perpanjangan IUP hingga Juni 2025. Meski demikian, TINS telah menerima aset rampasan korupsi sekitar Rp1,45 T dari pemerintah pada Oktober 2025, yang mencakup 6 smelter, ~681.000 kg logam timah, dan 22 bidang tanah seluas 238.848 meter persegi. Dari sisi pendanaan, Managing Director Danantara, Febriany Eddy, memastikan tidak ada injeksi modal jangka pendek kepada TINS, sehingga TINS bergantung pada restrukturisasi internal atau memperoleh dukungan pendanaan dari MIND ID untuk membiayai program hilirisasi.
Untuk 2026, Ketua Umum Asosiasi Eksportir Timah Indonesia, Harwendro Adityo Dewanto, mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan kuota produksi timah Indonesia dalam RKAB 2026 akan berada di kisaran 60.000 ton, naik +13,2% YoY dari RKAB 2025 di level 53.000 ton. Harwendro menambahkan bahwa proses persetujuan kuota saat ini masih berlangsung. TINS sendiri menetapkan target RKAP 2026 sebesar 30.000 ton Sn, naik +39,5% YoY dibandingkan RKAP 2025, dengan opsi revisi ke atas jika realisasi produksi pada 1H26 menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Key Takeaway
Meski ditopang oleh struktur supply–demand yang solid dalam jangka panjang, investor juga perlu mewaspadai pergerakan harga timah global yang dapat terdorong oleh euforia logam dan gelombang spekulasi AI. Timah kini menjadi instrumen spekulasi tidak langsung dalam narasi perkembangan AI, seiring perannya sebagai bahan solder esensial di perangkat elektronik dan data center. Fenomena ini terlihat di Shanghai, di mana volume perdagangan sempat meledak hingga 1 juta ton dalam sehari pada akhir Januari 2026 — lebih dari 2x kebutuhan fisik global secara tahunan — sebelum otoritas mengintervensi dengan peringatan keras dan pembatasan trading frekuensi tinggi. Terlepas dari volatilitas tersebut, konsensus Bloomberg per Rabu (25/2) memproyeksikan harga timah forward 3 bulan di LME akan berada di kisaran US$49.950/ton pada 2026 dan US$50.416/ton pada 2027. Tren kenaikan harga timah serta penertiban industri dalam negeri telah memberikan sentimen positif bagi TINS, di mana harga saham TINS telah menguat +332% dalam 6 bulan terakhir ke level Rp4.340 per 25 Februari 2026.
https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/timah-polri-tangkap-penyelundupan-rp22-t-outlook-2026?source=research
