Gugurnya mata uang Asia secara berjamaah utamanya tidak didorong oleh kekuatan ekonomi domestik masing-masing negara, melainkan oleh ketakutan global (global risk-off sentiment).
Ditariknya staf kedutaan AS dari Beirut adalah sinyal terkuat bahwa potensi eskalasi militer nyata adanya. Perang atau konflik bersenjata selalu memicu ketidakpastian tinggi yang membuat dana asing keluar dari negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia.
Kenaikan tarif impor AS dari 10% menjadi 15% untuk semua negara adalah pukulan telak bagi kawasan Asia yang sangat bergantung pada ekspor (seperti Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Thailand). Karena Asia adalah rantai pasok global, ancaman proteksionisme ini langsung membuat investor membuang mata uang Asia, yang menjelaskan mengapa Yen, Won, hingga Rupiah melemah berbarengan.
Efek Rambatan ke Pasar Saham (IHSG Melemah / Wait and See)
Pelemahan pasar saham domestik (IHSG) tidak terlepas dari sentimen global di atas. Namun, ada faktor idiosinkratik (khusus) dari dalam negeri yang memperburuk keadaan:
Adanya suspensi broker (Wanteg Sekuritas tapi ini atas kemauan Sekuritas) dan reformasi kebijakan OJK-BEI membuat pelaku pasar menahan likuiditasnya. Investor institusi biasanya enggan masuk ke pasar (wait and see) ketika ada ketidakpastian regulasi dan pembersihan pasar.
Beban Suku Bunga & Obligasi: Berita menyebutkan emiten ramai merilis obligasi. Saat sentimen global buruk dan rupiah melemah, perusahaan yang merilis obligasi harus menawarkan bunga (yield) yang lebih tinggi untuk menarik investor. Ini menekan profitabilitas emiten di bursa yang pada akhirnya membebani laju IHSG.
Risiko Makro-Fiskal Domestik (Front-Loading Utang)
Penarikan utang awal tahun yang masif (Rp127,3 triliun / 15,3% target setahun hanya dalam satu bulan) merupakan strategi front-loading pemerintah. Pemerintah tampaknya ingin segera mengamankan dana sebelum situasi global memburuk (suku bunga naik atau krisis terjadi).
Strategi ini menjadi beban ganda bagi Rupiah. Suplai obligasi (SBN) yang berlebih di pasar tanpa diimbangi permintaan asing (karena sedang kabur ke safe haven) akan membuat harga obligasi turun, yield naik, dan memicu pelemahan lanjutan pada nilai tukar Rupiah.
Bijak bijak kelola porto, karna ga harus setiap hari trading, tapi setiap trading harus pertimbangkan risk
$IHSG $BBRI $BMRI