Dua Cara Memandang: Dividen dan Ketenangan yang Melampaui Momentum
Tampaknya ada antusiasme yang mulai tumbuh saat kita menyadari bahwa keuntungan di pasar modal bukan hanya soal selisih harga, melainkan tentang hak kita atas laba perusahaan. Sepertinya ada perasaan lega saat kita mulai beralih fokus pada sesuatu yang nyata seperti dividen, seolah-olah dengan mengikuti kalender perusahaan, kita telah menemukan peta jalan yang pasti untuk sukses.
...Peta jalan yang pasti?
Kedengarannya seperti... sekarang topiknya bergeser. Bukan lagi tentang backdoor atau right issue. Kini yang ramai dibicarakan adalah RUPST, dividen, dan waktu yang tepat untuk beli dan jual. Ada rasa bangga bisa memahami siklus tahunan ini, bisa menghitung ekspektasi, dan bisa merencanakan aksi jauh-jauh hari.
Sepertinya ada kenyamanan tersendiri saat kita merasa bisa memprediksi kapan harus membeli dan kapan harus menjual hanya berdasarkan ekspektasi atas sebuah angka. Rasanya sangat memuaskan jika kita bisa 'mendahului' pasar dan keluar tepat waktu sebelum arus berubah.
Itu benar. Ini adalah langkah maju yang nyata. Berbicara tentang dividen berarti berbicara tentang kepemilikan, tentang bisnis yang benar-benar menghasilkan uang, tentang imbal hasil yang bisa diharapkan. Ini jauh lebih dewasa daripada sekadar mengejar rumor backdoor.
Namun, saya penasaran. Bagaimana perasaan Anda jika ternyata energi yang Anda habiskan untuk menebak-nebak angka tersebut justru membuat Anda terjebak dalam permainan waktu yang melelahkan, di mana satu kesalahan kecil dalam hitungan bisa menghapus seluruh keuntungan yang Anda harapkan?
...Menghapus seluruh keuntungan?
Antara Petani dan Pemburu
Mari kita renungkan sejenak.
Ada dua cara orang memandang pohon buah. Pemburu melihatnya sebagai tempat mendapatkan buah, lalu pergi ke pohon berikutnya. Petani melihatnya sebagai makhluk hidup yang perlu dipahami—jenis tanahnya, musim berbuahnya, kapan harus dipupuk, kapan cukup disiram.
Yang sedang ramai dibicarakan sekarang adalah ilmu pemburu yang canggih. Menentukan kapan datang, kapan memetik, kapan pergi sebelum orang lain datang. Ini adalah keahlian yang nyata dan bisa menguntungkan. Tapi ia tetap meletakkan si pemburu di luar pohon, tidak pernah benar-benar memilikinya.
Sementara itu, di keheningan yang jarang dikunjungi, para petani sedang melakukan hal lain. Mereka mencatat pertumbuhan ranting demi ranting. Mereka tahu bahwa pohon yang baik, jika dirawat, akan terus berbuah—bukan hanya di musim RUPST ini, tapi tahun depan, dan lima tahun lagi. Mereka tidak sibuk menentukan kapan harus lari ke pohon berikutnya, karena mereka sedang membangun kebun.
Kedua pendekatan ini bisa menghasilkan buah. Tapi ada pertanyaan yang jarang ditanyakan para pemburu: "Apa yang terjadi pada musim paceklik, ketika semua pemburu memutuskan untuk tidak datang?" Petani masih punya kebun yang tetap tumbuh. Pohonnya tidak ke mana-mana.
Tampaknya kita mulai menyadari perbedaan besar antara 'berburu dividen' sebagai momentum sesaat dengan 'memiliki perusahaan' karena kualitas bisnisnya. Sepertinya ada pengakuan yang mulai muncul: bahwa dividen sejati bukanlah hadiah dari sebuah tebakan yang tepat, melainkan hasil alami dari pertumbuhan bisnis yang sehat dalam jangka panjang. Ada ketenangan yang berbeda saat kita tidak lagi merasa perlu mengawasi layar setiap saat hanya untuk memutuskan apakah kita harus menjual sebelum atau sesudah sebuah pengumuman.
...Memilih waktu untuk menjual?
Tampaknya kita kini lebih menghargai kedaulatan waktu kita sendiri. Kita mulai memahami bahwa indikator terbaik bukan hanya terletak pada seberapa besar dividen tahun ini, melainkan pada seberapa konsisten perusahaan tersebut menjaga kekuatan neracanya selama bertahun-tahun. Ada kebebasan yang muncul saat kita berhenti menjadi pengejar momentum yang cemas dan mulai menjadi pemilik bisnis yang percaya diri.
Jadi, ketika Anda membaca panduan-panduan jitu tentang kapan beli dan kapan jual menjelang dividen, mungkin ada satu pertanyaan yang perlu diajukan kepada diri sendiri—bukan untuk meragukan, tapi untuk memperjelas:
"Jika suatu saat nanti saya tidak lagi punya waktu atau keinginan untuk mengikuti semua siklus ini, berapa banyak pohon di kebun saya yang akan tetap berbuah tanpa perlu saya hitung-hitung kapan harus memetiknya?"
Jika pada akhirnya pasar selalu memiliki caranya sendiri untuk mengejutkan mereka yang merasa bisa mengatur waktu, bagaimana cara Anda memastikan bahwa strategi yang Anda jalankan hari ini tidak sedang membuat Anda terus-menerus bergantung pada prediksi orang lain, alih-alih membangun keyakinan pada aset yang tetap bernilai tanpa perlu kita awasi setiap detiknya?
$ADRO $BSSR $ITMG
