$WOMF Berdasarkan data keystats
(Q4 2025), berikut adalah bedah fundamental emiten WOMF.
1. Top-Line & Profitability: "Stagnasi Pendapatan di Tengah Erosi Margin"
Revenue (TTM) Rp 2.175 B: Pendapatan hanya tumbuh tipis 0,53% (YoY). Angka ini menunjukkan WOMF mengalami kesulitan melakukan ekspansi pasar secara agresif di tengah persaingan ketat sektor multifinance.
Net Income (TTM) Rp 143 B: Terjadi penurunan drastis sebesar -45,78% (YoY) dari Rp 263 B di 2024. Ini adalah red flag utama.
Net Profit Margin (Quarterly) 3,34%: Margin keuntungan bersih yang sangat tipis untuk ukuran perusahaan pembiayaan. Hal ini mengindikasikan lonjakan pada beban operasional atau kenaikan beban bunga (cost of fund) serta pencadangan piutang yang membengkak.
EBITDA (TTM) Rp 693 B: Meskipun laba bersih turun, EBITDA masih cukup tebal. Namun, penurunan Net Income yang lebih dalam dibanding EBITDA menunjukkan adanya tekanan berat pada pos bunga dan pajak.
2. Per-Share Data & Valuation: "Murah, tapi Ada Jebakan Value Trap?"
EPS (TTM) 40,95: Laba per saham anjlok dari 75,52 di 2024 menjadi 40,95 di 2025.
Penurunan daya laba (earning power) sebesar ~45% menjelaskan mengapa pasar cenderung menghukum harga sahamnya.
Current PE Ratio (Annualised) 7,82x: Secara historis dan sektoral, PE di bawah 10x terlihat murah. Namun, dengan pertumbuhan laba negatif (-45%), angka ini sebenarnya adalah re-rating pasar terhadap prospek bisnis yang melambat.
Price to Book Value (PBV) 0,56x: Saham ini diperdagangkan jauh di bawah nilai bukunya (BVPS Rp 569,63). Ini adalah diskon yang dalam. Namun, diskon PBV di bawah 1x pada sektor finansial seringkali mencerminkan keraguan pasar terhadap kualitas aset (NPF).
3. Balance Sheet & Solvency: "Gearing Ratio yang Agresif"
Debt to Equity Ratio (DER) 5,23x: Sebagai perusahaan multifinance, DER tinggi adalah wajar. Namun, angka 5,23x menunjukkan struktur modal yang sangat leveraged. Setiap kenaikan suku bunga acuan akan langsung menggerus margin laba bersih WOMF secara signifikan.
Total Assets Rp 7.369 B vs Total Liabilities Rp 5.385 B:
Posisi neraca masih terjaga secara nominal, namun pertumbuhan aset yang melambat menunjukkan manajemen lebih defensif dalam menyalurkan pembiayaan baru.
4. Cash Flow: "Operasional yang Mengkhawatirkan"
Cash From Operations (TTM) (Rp 252 B): Arus kas operasional negatif menunjukkan bahwa pengeluaran untuk penyaluran kredit baru dan biaya operasional lebih besar daripada angsuran yang diterima.
Free Cash Flow (TTM) (Rp 4 B): Ketidakmampuan menghasilkan kas bebas mempersempit ruang gerak perusahaan untuk melakukan ekspansi tanpa menambah utang baru.
5. Dividend: "Sweetener yang Berisiko"
Dividend Yield 7,08%: Sangat atraktif bagi pemburu dividen.
Payout Ratio 57,19%: Rasio pembayaran dividen melonjak dari 30% ke 57%. Ini adalah strategi "pemanis" agar pemegang saham tidak keluar, namun secara fundamental kurang sehat karena laba sedang turun drastis. Perusahaan membagikan porsi laba yang lebih besar justru saat kinerja mereka melemah.
Kesimpulan:
WOMF saat ini berada dalam fase "Value Trap". Secara valuasi (PBV 0,56x), saham ini terlihat sangat murah, namun penurunan laba bersih sebesar 45% YoY menunjukkan masalah fundamental pada efisiensi operasional dan kualitas aset.
Ketergantungan pada utang (DER 5,23x) di tengah tren suku bunga yang belum melandai secara signifikan membuat biaya dana (cost of fund) mencekik margin.
Jika laba Q1 2026 tidak membaik, harga saham berisiko stagnan atau terus terkoreksi mengikuti penurunan EPS.
Titik Pantau Selanjutnya: Cermati kemampuan manajemen menekan Operating Expenses dan apakah mereka bisa menaikkan Yield pembiayaan tanpa memperparah kredit macet.
Disclaimer : Analisis ini merupakan opini/ pendapat pribadi berdasarkan data keystats yang tersedia saat ini, Bukan Rekomendasi Ajakan Jual/Beli.