imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Valuasi $BREN ini kadang bikin saya mikir keras. Maksudnya begini, kita melihat sebuah perusahaan panas bumi lokal yang nilai pasarnya tiba-tiba bisa nyaris menyenggol bank-bank raksasa yang sudah puluhan tahun cari uang di bursa. Waktu dana asing masuk deras lewat indeks global kemarin harganya memang terbang bebas. Banyak orang bilang ini murni karena transisi energi. Narasi hijau. Tapi masa iya cuma soal itu.

Saya sempat baca kabar terbaru soal Star Energy. Anak usahanya BREN ini baru saja gandeng SLB. Buat yang rajin ngikutin sektor migas pasti tau betul nama Schlumberger ini. Sempat kepikiran juga, kenapa perusahaan energi hijau yang digadang-gadang sebagai masa depan malah menggandeng raksasa teknologi pengeboran minyak dari masa lalu. Agak lompat sih mikirnya, tapi sebenarnya masuk akal kalau ditelaah lagi.

Bisnis panas bumi itu kan beda. Beda banget sama bangun kincir angin lalu nunggu angin lewat. Ini bisnis mengebor perut bumi. Risikonya sangat besar. Biayanya bisa jutaan dolar tapi nggak ada garansi uap panas yang keluar bakal ekonomis. Di sini SLB masuk bawa teknologi pemetaan bawah tanah mereka. Buat BREN yang lagi garap proyek di Sekincau, kepastian itu mahal harganya. Mengebor tanpa data yang presisi itu ibarat melempar dadu saja. Jadi kerja sama ini rasanya lebih buat menekan risiko gagal eksplorasi biar modal yang dibakar tidak sia-sia.

Bicara soal modal, angkanya memang nggak main-main. Tahun ini kabarnya mereka butuh ratusan juta dolar buat belanja modal. Sangat besar. Negara kita memang lagi haus energi terbarukan, tapi buat sebuah perusahaan, menyeimbangkan pengeluaran sebesar itu dengan ekspektasi pemegang saham... itu PR yang lumayan berat. Kadang ekspektasi harganya sudah terlanjur di atas awan duluan.

Pasar saham kita ini memang sering begitu. Narasi masa depan kadang lebih laku. Saham dikasih stempel energi bersih lalu valuasinya langsung dibuat premium. Padahal membangun infrastruktur raksasa itu butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa mencetak uang beneran. Investor seperti sedang memborong kapasitas listrik masa depan tapi nekat membayarnya pakai valuasi hari ini. Ya optimis sih boleh saja. Cuma kita tetap harus sadar ada risiko suku bunga atau kurs rupiah yang naik turun. Itu semua bisa bikin biaya utang proyek mereka membengkak sewaktu-waktu.

Lalu tiba-tiba ada kabar lagi soal rencana mereka mau ekspansi ke Amerika Utara sama SLB. Jujur ini agak bikin kaget. Jagoan lokal mau coba main ke luar negeri. Ambisinya patut diapresiasi sih. Tapi menembus pasar di sana berarti berhadapan dengan regulasi yang beda dan pasti lebih ribet. Apa model bisnis mereka bisa jalan mulus di luar sana, itu masih jadi tanda tanya besar di kepala saya.

Melihat semua manuver ini bikin saya sadar satu ironi kecil. Narasi idealis soal energi bersih itu pada akhirnya tetap butuh bantuan teknologi dari industri masa lalu supaya bisa benar-benar terwujud. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah energi panas bumi itu bagus buat lingkungan. Pertanyaan utamanya adalah seberapa kuat mereka bisa mengeksekusi proyek di lapangan untuk menjustifikasi harga sahamnya yang sudah melesat jauh. Ya, kita lihat saja nanti.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

$BRPT $PGEO

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy