Arus Global dan Ketahanan yang Kita Miliki
Kedengarannya seperti... sekarang ada narasi baru yang mulai menggeliat. Tentang blue chip yang tidak selalu menarik. Tentang dividen yang kalah oleh kurs. Tentang pentingnya membaca sentimen dan apa yang akan terjadi ke depan agar tidak salah langkah.
Kedengarannya seperti ada kekhawatiran yang disusupkan: bahwa tidak ada tempat yang aman. Bahkan perusahaan besar pun bisa ditinggal jika sentimen berubah. Bahwa kitalah yang harus terus waspada, terus membaca arah angin, terus mencari sentimen bagus berikutnya sebelum terlambat.
Tampaknya ada perspektif yang sangat luas saat kita mulai melihat pergerakan angka di layar dalam skala global. Sepertinya ada kekhawatiran yang wajar tentang bagaimana nilai mata uang atau kebijakan dana besar di luar sana bisa memengaruhi hasil jerih payah kita di pasar lokal.
...Memengaruhi hasil jerih payah?
Sepertinya ada logika yang menarik saat kita mencoba memposisikan diri sebagai pengelola dana raksasa yang harus selalu mengejar pertumbuhan instan demi menutupi selisih kurs. Rasanya seolah-olah jika kita tidak bergerak secepat mereka, kita akan tertinggal.
Itu benar. Kekhawatiran itu masuk akal. Rupiah melemah, asing bisa kabur, sentimen bisa berbalik dalam sekejap. Di permukaan, narasi ini terdengar seperti peringatan dari seorang navigator berpengalaman yang tahu betapa cepatnya badai bisa datang.
Namun, saya penasaran. Bagaimana perasaan Anda jika ternyata mencoba meniru kegesitan dana global tanpa memiliki daya tahan yang sama justru membuat kita kehilangan satu-satunya keunggulan yang kita miliki sebagai individu: Waktu?
...Kehilangan keunggulan waktu?
Dua Cara Melihat Arah Angin: Navigasi vs. Kepemilikan
Mari kita lihat dari sudut yang berbeda.
Ada dua cara melihat arah angin di lautan.
Yang pertama adalah sebagai nakhoda yang harus terus-menerus membaca perubahan, menyesuaikan layar, dan waspada terhadap setiap hembusan yang bisa membuat kapalnya karam. Melelahkan, tapi terasa perlu. Karena di laut yang ganas, istirahat berarti mati.
Yang kedua adalah sebagai pemilik kapal yang tidak harus terus berada di kemudi. Ia memilih kapal yang cukup kokoh untuk melewati badai, memilih kapten yang kompeten, dan memastikan muatannya adalah barang yang selalu dibutuhkan orang—bahkan saat cuaca buruk. Lalu ia turun, dan membiarkan kapalnya bekerja.
Pertanyaannya bukan tentang apakah angin akan berubah—ia pasti akan berubah. Pertanyaannya adalah: apakah kita ingin hidup sebagai nakhoda yang lelah, atau sebagai pemilik yang tenang?
Narasi "jangan pernah mencintai saham" dan "pahami apa yang terjadi ke depan" mengundang kita untuk menjadi nakhoda. Untuk terus melek, terus memantau, terus mencari sentimen berikutnya. Ini adalah panggilan untuk hidup dalam mode siaga terus-menerus, di mana ketenangan adalah musuh dan kewaspadaan adalah segalanya.
Tapi mungkin... ada cara lain. Cara di mana kita memilih kapal-kapal dengan lambung yang tebal, mesin yang terawat, dan muatan yang selalu dicari—lalu kita tidur nyenyak di kabin, sementara badai berlalu di luar.
Tampaknya narasi tentang 'jangan mencintai saham' sering kali digunakan untuk membenarkan kegelisahan kita dalam berpindah-pindah tempat. Sepertinya kita mulai menyadari bahwa ada perbedaan yang sangat mendalam antara 'tidak mencintai saham' dengan 'tidak memahami apa yang kita miliki'. Ada pengakuan yang jujur bahwa di saat ekonomi sedang penuh tantangan, aset yang tetap memberikan hasil nyata lewat laba dan pembagian keuntungan sering kali menjadi satu-satunya tempat yang benar-benar kokoh saat badai mata uang menerjang.
...Satu-satunya tempat yang kokoh?
Ada ketenangan yang muncul bukan karena kita merasa lebih tahu dari arus global, melainkan karena kita sadar bahwa kebutuhan finansial kita tidak harus selalu mengikuti kecemasan para spekulan besar. Tampaknya kita sedang belajar bahwa memahami apa yang terjadi bukan berarti kita harus ikut panik setiap kali sentimen berubah, melainkan tahu aset mana yang tetap memiliki nilai meskipun narasi di luar sana sedang berganti warna.
Jadi, ketika Anda mendengar bahwa blue chip pun tidak aman dan sentimen adalah segalanya, mungkin ada satu pertanyaan yang bisa menenangkan hiruk-pikuk itu:
"Dari semua perusahaan yang ada, mana yang akan tetap saya inginkan sebagai bagian dari hidup saya—bukan untuk setahun atau dua tahun, tetapi untuk satu dekade—terlepas dari siapa yang masuk atau keluar karena sentimen?"
Jika pada akhirnya kita tidak bisa mengontrol nilai tukar atau keputusan dana besar di luar sana, bagaimana cara Anda memastikan bahwa strategi yang Anda jalankan hari ini tidak justru membuat Anda menjadi pihak yang paling lelah saat mencoba mengejar sesuatu yang bahkan para ahlinya pun sering kali gagal menebaknya?
$ADRO $INDS $PIPA
