SAHAM MULTIBAGGER DARI SISI FUNDAMENTAL
Saya selalu curiga pada saham yang ramai.
Terlalu ramai.
Kalau parkiran sudah penuh sebelum toko buka, biasanya bukan diskon. Biasanya ada yang ingin jual cerita.
Multibagger tidak lahir di keramaian. Ia tumbuh dalam kesunyian. Di laporan keuangan yang jarang disentuh. Di angka-angka kecil yang dianggap membosankan.
Multibagger itu bukan soal grafik menanjak. Ia soal laba yang naik diam-diam.
Orang sering bertanya: bagaimana menemukan saham yang bisa naik 5 kali, 10 kali, bahkan 20 kali?
Jawabannya jarang enak.
Bukan dari grup Telegram. Bukan dari influencer yang baru beli kemarin sore. Tapi dari neraca.
Saya mulai dari yang sederhana: pertumbuhan laba. Bukan satu tahun. Minimal lima tahun. Lebih bagus sepuluh. Laba yang naik konsisten itu seperti pohon jati. Lambat, tapi akarnya dalam.
Lalu saya lihat ROE. Kalau ROE di atas 20% bertahun-tahun tanpa utang berlebihan, saya mulai duduk lebih tegak. Itu artinya manajemen tahu cara memutar uang pemegang saham.
Tapi ROE saja bisa menipu. Utang bisa mempercantik angka. Maka saya buka halaman berikutnya: arus kas operasi. Laba boleh tercetak rapi. Tapi kalau kas tidak ikut masuk, itu hanya tinta.
Multibagger sejati punya satu kebiasaan:
kasnya deras.
Banyak orang mengejar PER murah. Mereka bangga membeli saham PER 5.
Saya justru takut.
PER murah sering berarti pasar tidak percaya masa depan. Multibagger sering terlihat mahal di awal. PER 25. Bahkan 40.
Tapi pertumbuhan labanya 30% per tahun.
Coba hitung sederhana. Laba tumbuh 30% per tahun selama lima tahun. Hampir 4 kali lipat. Kalau valuasi tetap, harga ikut naik 4 kali. Kalau valuasi naik karena pasar mulai percaya, bisa 6–8 kali.
Multibagger bukan karena PER naik. Tapi karena laba meledak.
Ada satu kata yang jarang dibahas ritel: moat.
Parit pertahanan.
Seperti yang sering ditekankan oleh Warren Buffett, bisnis hebat itu punya parit lebar.
Merek kuat. Distribusi tak tertandingi. Biaya produksi paling rendah. Atau regulasi yang membuat pesaing sulit masuk.
Tanpa moat, pertumbuhan hanya sementara.
Dengan moat, pertumbuhan menjadi kebiasaan.
Saya juga mencari satu hal yang tidak tertulis jelas: manajemen yang waras.
Direksi yang tidak hobi rights issue tiap tahun. Tidak gemar akuisisi aneh-aneh. Tidak sibuk pencitraan.
Multibagger sering dipimpin orang yang jarang muncul di media. Tapi rajin muncul di laporan laba.
Mereka fokus pada satu hal: ekspansi yang menghasilkan uang, bukan ekspansi yang menghasilkan berita.
Saham multibagger sering mulai dari kecil.
Market cap tidak besar. Diliput analis pun tidak. Likuiditas sepi.
Justru di situ keuntungannya.
Ketika laba mulai menanjak dan institusi mulai melirik, harga bergerak pelan. Lalu cepat. Lalu sangat cepat.
Ritel biasanya baru masuk di fase ketiga. Saat cerita sudah viral. Saat grafik sudah 300% naik. Lalu bertanya: masih bisa 5 kali lagi?
Biasanya tidak.
Karena multibagger terbesar terjadi sebelum orang sadar.
Ada rumus sederhana yang jarang salah:
1.Pertumbuhan laba konsisten dua digit.
2.ROE tinggi tanpa utang berlebihan.
3.Arus kas operasi kuat.
4.Ekspansi didanai laba, bukan utang agresif.
5.Bisnis punya keunggulan yang sulit ditiru.
Temukan lima itu.
Lalu sabar.
Bagian tersulit dari multibagger bukan menemukannya. Tapi menahannya.
Ketika naik 50%, ingin jual. Naik 100%, takut turun. Naik 200%, merasa jenius. Lalu jual.
Padahal perjalanan baru mulai.
Multibagger menguji bukan hanya analisa, tapi kesabaran.
Saya pernah melihat saham yang naik 15 kali dalam delapan tahun.
Tidak pernah trending. Tidak pernah digoreng. Tidak pernah masuk saham “paling hot”.
Ia hanya melakukan satu hal: laba naik. Tahun demi tahun.
Diam-diam.
Seperti bambu yang akarnya tumbuh lama sebelum menembus tanah.
Ketika akhirnya menembus, orang mengira itu keajaiban.
Padahal itu akumulasi.
Multibagger bukan keberuntungan.
Ia adalah fundamental yang dibiarkan bekerja oleh waktu.
Dan waktu, dalam saham, selalu berpihak pada laba yang tumbuh.
