imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

“Ashmore Saja Optimis, Kenapa Media Masih Hobi Menakut-nakuti Pasar Indonesia?”

Optimisme pelaku institusi global seperti Ashmore Group terhadap Indonesia memang sering terasa kontras dengan judul-judul media yang terdengar penuh kekhawatiran. Sebenarnya ini bukan anomali. Media hidup dari perhatian pembaca, dan secara psikologis berita bernada negatif jauh lebih cepat menarik klik dibandingkan kabar stabil atau positif. Ketika ada isu suku bunga global, pelemahan rupiah, atau arus dana asing keluar, itu lebih “seksi” untuk dijadikan headline dibandingkan pertumbuhan AUM, inflow dana, atau perbaikan margin yang sifatnya gradual.

Selain itu, sudut pandang media umumnya jangka pendek dan berbasis sentimen pasar harian, sementara manajer investasi seperti Ashmore bekerja dengan horizon lebih panjang dan berbasis data fundamental. Apa yang bagi media terlihat sebagai risiko (volatilitas, ketidakpastian global, politik, dll.), bagi institusi justru bisa dilihat sebagai fase akumulasi saat valuasi murah. Jadi bukan berarti medianya salah—mereka hanya bermain di time frame yang berbeda dengan investor institusional.

Faktor lain adalah fungsi media sebagai “early warning system”. Mereka cenderung mengangkat potensi risiko agar pelaku pasar waspada, bukan untuk menjatuhkan pasar. Ironisnya, di fase ketika fundamental mulai membaik tetapi harga masih tertekan, narasi fear memang terasa dominan. Justru di titik seperti inilah biasanya terjadi perbedaan antara investor yang mengikuti arus berita dan investor yang membaca arah data.

$BBCA $BMRI $BBRI

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy