Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Tercatat Defisit US$2,5 Miliar pada 4Q25
Bank Indonesia mencatat bahwa neraca transaksi berjalan mengalami defisit sebesar US$2,5 miliar atau setara 0,7% dari PDB pada 4Q25 (vs. 3Q25: surplus US$4 miliar, setara 1,1% PDB) seiring peningkatan impor minyak dan gas. Hasil ini lebih baik dibandingkan ekspektasi konsensus yang memperkirakan defisit US$2,59 miliar. Sementara itu, neraca transaksi modal dan finansial surplus US$8,3 miliar pada 4Q25 (vs. 3Q25: defisit US$8 miliar), sehingga neraca pembayaran surplus US$6,1 miliar pada 4Q25 (vs. 3Q25: defisit US$6,4 miliar). Secara kumulatif selama 2025, defisit neraca transaksi berjalan tercatat sebesar US$1,5 miliar atau setara 0,1% terhadap PDB (vs. 2024: defisit US$8,6 miliar), sementara neraca transaksi modal dan finansial defisit US$4,2 miliar seiring ketidakpastian global yang mendorong arus keluar modal portofolio. Hal ini menyebabkan neraca pembayaran selama 2025 defisit US$7,8 miliar (vs. 2024: surplus US$7,2 miliar). Untuk 2026, Bank Indonesia memproyeksikan defisit neraca transaksi berjalan akan tetap rendah di kisaran 0,1–0,9% terhadap PDB.
[Sumber: Bank Indonesia]
-------
Stockbit Sekuritas