imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Pakai Value Investing tapi masih rugi? Ini kesalahan yang sering terjadi


Secara konsep, pendekatan value investing memang logis sekali.

Kita membeli bisnis bagus di harga wajar atau murah, lalu menunggu nilai intrinsiknya terefleksi di harga saham.

Filosofi yang dipopulerkan oleh tokoh legendaris seperti Ben Graham dan Warren Buffett ini terbukti berhasil dalam jangka panjang.

Namun praktik di lapangan seringkali tidak seindah itu. Sering sekali saya melihat orang frustasi saat sedang hold saham yang dia bilang saham value.

Kalau saya amati, masalahnya biasanya ada pada cara penerapannya. Terkadang ada beberapa hal yang tidak kita sadari namun bisa menjegal potensi keberhasilan value investing.

Apa saja kesalahannya?

1. Menjual Wonderful Company Terlalu Cepat

Ini mungkin alasan yang paling umum. Merasa kelamaan menunggu saham naik. Apalagi pas lagi bullish. Saham lain terbang, tapi saham kita masih aja nongkrong di pojokan. Diem aja.

Lama kelamaan jadi bosan sendiri dan akhirnya dijual.

Dan ini biasanya gongnya.
Begitu dijual, eh sahamnya terbang 😂

Saham-saham compounder bekerja seperti snow ball. Efeknya tidak langsung terasa, tapi akan sangat signifikan jika diberi waktu yang cukup.

Value investing itu bukan soal timing, tapi soal time in the market.

Jika bisnisnya tetap solid, waktu adalah teman baik kita.


2. Tidak paham apa moat-nya

Coba tanyakan pada diri sendiri, apa yang bikin perusahaan ini berbeda?

Punya produk yang superior?
Punya jalur distribusi yang tak tersaingi?
Punya merek yang tak tergantikan?
Punya biaya produksi yang sangat rendah?
Punya manajemen yang top notch?

Kalau jawabannya tidak jelas, itu sudah seperti lampu kuning.

Tanpa moat, perusahaan akan terus berkutat dengan profit margin yang rendah atau market share yang stagnan.

Bisnisnya bakal gitu-gitu aja.
Jelek enggak, bagus juga enggak.

Harganya...ya gitu lah.



3. Terlalu Jatuh Cinta pada Saham

Kata orang sih wonderful company.
Tapi itu duluuuu.

Bisnisnya berubah.
Industri terdisrupsi.

Valuasi jadi tidak bisa premium lagi alias de-rating

Saya sering ketemu investor seperti ini. Lama sekali pegang suatu saham yang gak ke mana-mana. Terkadang malahan floating loss gede.

Saya tanya, "Kenapa kok masih pegang sahamnya?"

Jawaban: "Sayang, Mas. Masa udah pegang bertahun-tahun dijual. Ini masih rugi pula."

Kok invest saham pakai unsur sentimentil?
Saham mana peduli hal-hal seperti itu.


Kalau sudah seperti itu, return ke depan menjadi tidak menarik.

Sebagai investor, kita harus realistis.

Dan perlu rajin update juga. Saham kita ini masih makhluk yang sama atau tidak.



4. Terjebak Ilusi “Saham Murah”

PER rendah atau PBV kecil itu memang menarik sih.

Masalahnya kedua rasio tersebut bersifat relatif.

Kalau bisnisnya sudah tidak relevan dan terus menurun, PER yang terlihat rendah hari ini bisa menjadi tinggi ke depannya karena labanya menyusut.

Case kedua, misal ini saham-saham di sektor yang sama.

Saham A --> PER 35
Saham B --> PER 45
Ssham C --> PER 30

Saham C paling murah dong.
Walah, beneran mikir gitu?

Kalau cuma liat saham imajiner seperti itu kamu tidak akan percaya. Tapi kalau di bursa, bisa jadi kamu akan mikir saham C itu murah. Padahal secara absolut, saham C itu mahal.

Ini pelajaran penting.
Murah secara angka tidak selalu murah secara nilai.

Kecuali kita benar-benar memahami katalis yang bisa membuka nilai tersembunyi saham tersebut, lebih baik waspada terhadap jebakan value trap.

Prinsipnya: "Guilty until proven innocent."


5. Terlalu Optimis atau Terlalu Pesimis

Mata sampai ijo karena tergiur potensi cuan, lalu lupa bahwa bisnis bisa gagal.
Bahkan seorang CEO yang kompeten pun bisa tersandung.

Atau sebaliknya, menganggap saham tertentu tidak ada harapan sampai benar-benar tidak mau melirik.

Padahal ternyata bisnisnya sudah berubah. Ownernya juga sudah beda. Manajemen sudah diganti.

Kalau sudah begitu, apa dasar kita untuk antipati dengan sahamnya?


Jangan berharap pohon tomat bisa setinggi kelapa.
Tapi jangan juga menganggap pohon tomat tidak ada gunanya.

Ekspektasi harus realistis.
Skeptis sah-sah saja selama kita tidak antipati.


6. Meremehkan Faktor Manajemen

Bisnis yang potensinya bagus bisa jadi mediocre tanpa manajemen yang bagus. Apalagi kalau manajemennya tidak bisa dipercaya.

Bisnis itu bukan hanya mengejar sales.
Kalau pengelolaan biaya dan alokasi modalnya jelek, sales yang bagus tidak akan menjadi profit.



Catatan penutup:

Investasi itu sederhana namun tidak mudah.

Sederhana karena kita hanya perlu membeli
saham bagus dan sedang murah.

Namun kita harus benar-benar paham definisi
bagus dan murah itu seperti apa.

Dan terkadang itu tidak mudah.

Yang dibutuhkan bukan IQ yang super, melainkan pola pikir yang benar.

$IHSG

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy