imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$AISA Berdasarkan data laporan keuangan per Q4 2025 yang Tersedia di keystats saat ini, berikut adalah analisis fundamental.

​1. Analisis Profitabilitas & Pertumbuhan (Income Statement)
​Secara makro, AISA menunjukkan fase pemulihan yang stabil namun dengan margin yang masih tipis.


​Revenue (TTM) 1,958 B (+1.95% YoY): Pertumbuhan pendapatan cenderung stagnan (flat). Angka 1.9% menunjukkan perusahaan kesulitan melakukan penetrasi pasar baru atau menghadapi saturasi di segmen produknya.


​Gross Profit Margin (GPM) 40.66%: Ini adalah angka yang sangat sehat untuk sektor Consumer Goods. Artinya, secara produksi, AISA memiliki pricing power dan efisiensi biaya bahan baku yang baik.

​EBITDA 223 B & Net Income (TTM) 89 B: Konversi dari GPM 40% ke Net Margin 3.68% menunjukkan adanya High Operating Leverage atau biaya operasional (SGA) yang sangat besar. Ada "kebocoran" besar di biaya distribusi atau promosi.


​Net Income Growth (+28.29% YoY): Meskipun pendapatan flat, laba bersih tumbuh signifikan. Ini mengindikasikan adanya efisiensi biaya finansial atau perbaikan pada bottom line pasca restrukturisasi utang masa lalu.


​2. Analisis Valuasi (Valuation Metrics)
​Valuasi AISA berada di zona "wajar" namun tidak bisa dikatakan murah jika melihat profil pertumbuhannya.


​PE Ratio (TTM) 14.63x: Untuk emiten consumer yang tumbuh di bawah 5%, PE 14x sudah tergolong premium. Pasar sudah mengapresiasi perbaikan kinerja ini.


​Price to Book Value (PBV) 1.14x: Secara aset, harga saham diperdagangkan sedikit di atas nilai bukunya. Cukup konservatif, namun belum menawarkan margin of safety yang lebar.


​EV to EBITDA 5.43x: Ini indikator paling menarik. Angka di bawah 6x menunjukkan bahwa secara operasional, perusahaan dihargai cukup murah oleh pasar jika dibandingkan dengan kemampuan menghasilkan arus kas operasional sebelum depresiasi.


​3. Analisis Neraca & Likuiditas
(Balance Sheet & Solvency)
​Di sinilah titik kritis AISA berada.
​Current Ratio 0.81x & Quick Ratio 0.88x =Red Flag.

Rasio di bawah 1.0x menunjukkan aset lancar perusahaan tidak cukup untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya. Perusahaan berisiko mengalami kendala likuiditas jika tidak ada refinancing atau suntikan modal.


​Debt to Equity Ratio (DER) 0.27x: Secara struktur modal jangka panjang, perusahaan sangat aman karena porsi utang jauh lebih kecil dibanding ekuitas 1.145 B.

​Net Debt 199 B: Posisi utang bersih masih dalam kendali, namun masalah utamanya bukan pada jumlah utang, melainkan pada manajemen arus kas jangka pendek.


​4. Analisis Arus Kas (Cash Flow)
​Cash From Operations (TTM) 23 B: Sangat rendah jika dibandingkan dengan Net Income 89 B. Ada selisih besar (akrual) yang kemungkinan tertahan di Piutang (Receivables) atau Persediaan (Inventory).


​Free Cash Flow (TTM) 161 B: Angka ini terlihat anomali positif yang besar karena ada pelepasan aset atau efisiensi belanja modal (Capex). Namun, rasio Price to FCF 56.91x menunjukkan harga saham saat ini sudah sangat mahal jika divaluasi dari kemampuan mencetak kas bersih.


​Kesimpulan:
​AISA saat ini adalah perusahaan yang sudah "sembuh secara klinis" dari krisis masa lalu, namun belum mampu "berlari kencang".


​Efisiensi vs Ekspansi: Perusahaan berhasil menekan biaya hingga laba tumbuh 28%, namun top line (pendapatan) yang hanya tumbuh 1.9% adalah sinyal bahaya.

Tanpa inovasi produk, AISA hanya akan menjadi perusahaan dengan kapasitas pertumbuhan yang terbatas

​Masalah Likuiditas: Current Ratio 0.81x adalah alarm. Perusahaan harus segera memperbaiki manajemen modal kerja agar tidak terjebak dalam masalah gagal bayar jangka pendek.
​Valuasi: Harga saat ini (PBV 1.14x, PE 14x) adalah harga yang adil (fair value), bukan harga diskon.

Disclaimer : Analisis ini merupakan opini/ pendapat pribadi berdasarkan data keystats yang tersedia saat ini, Bukan Rekomendasi Ajakan Jual/Beli.

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy