#37 Belajar Menunggu Tanpa Gelisah
Saya dulu mengira menunggu adalah bagian paling membosankan dalam investasi. Setelah membeli, rasanya ingin segera melihat hasil. Jika harga bergerak lambat, muncul kegelisahan kecil yang lama-lama membesar. Pikiran mulai mencari-cari alasan untuk bertindak: mungkin harus tambah posisi, mungkin harus ganti saham, mungkin harus cari peluang lain. Saya tidak sadar bahwa yang membuat lelah bukan pergerakan pasar, melainkan ketidakmampuan saya berdamai dengan jeda.
Ada masa ketika setiap hari terasa seperti ujian kesabaran. Harga naik sedikit, lalu turun lagi. Tidak ada momentum besar, tidak ada kabar spektakuler. Di situ saya mulai menyadari bahwa menunggu tanpa arah memang menegangkan, tetapi menunggu dengan pemahaman terasa berbeda. Ketika saya benar-benar memahami alasan saya masuk, waktu tidak lagi terasa sebagai ancaman. Ia berubah menjadi ruang untuk memastikan bahwa keputusan saya berdiri di atas fondasi yang masuk akal.
Perubahan terbesar terjadi saat saya berhenti memaknai diam sebagai kegagalan. Saya belajar bahwa tidak semua fase pasar menuntut aksi. Ada fase akumulasi, ada fase pengujian, ada fase klarifikasi. Jika setiap jeda saya isi dengan transaksi hanya demi meredakan gelisah, saya justru mengacaukan proses sendiri. Dari situ saya mulai melatih diri untuk membedakan antara kebutuhan bertindak dan dorongan emosional yang ingin merasa produktif.
Hari ini, menunggu bukan lagi sesuatu yang mengganggu. Ia menjadi bagian dari strategi. Saya tahu bahwa hasil yang matang jarang lahir dari keputusan yang tergesa. Dengan belajar menunggu tanpa gelisah, saya menemukan ritme yang lebih tenang dalam berinvestasi. Bukan karena pasar menjadi lebih mudah, tetapi karena saya tidak lagi memaksa waktu untuk bergerak sesuai keinginan saya. Dan di sanalah ketenangan itu tumbuh.
$IHSG $ITMG $BSSR
