$AADI Secara broker summary, saham AADI dalam periode 1 Februari – 13 Februari 2026 menunjukkan dominasi pembelian oleh broker yang umumnya dikategorikan sebagai institusi dan asing. Broker CC mencatat nilai beli sekitar Rp119,6 miliar dengan rata-rata harga 8.326, diikuti ZP sekitar Rp67,1 miliar (avg 8.327) dan AK sekitar Rp56,3 miliar (avg 8.304). Selain itu terdapat akumulasi tambahan dari BB ±Rp32,6 miliar dan NI ±Rp31,6 miliar. Di sisi penjualan, justru muncul broker yang lebih identik dengan aktivitas ritel seperti YP yang mencatat nilai jual sekitar Rp95,3 miliar dan XL sekitar Rp79,9 miliar, disusul RF ±Rp60,7 miliar serta BK ±Rp53,8 miliar. Komposisi ini menunjukkan bahwa saham yang dilepas oleh pelaku domestik banyak diserap oleh broker-broker institusi/asing.
Jika dipersempit ke periode 7 Februari – 13 Februari 2026, pola tersebut tetap konsisten. CC masih menjadi pembeli terbesar dengan sekitar Rp96,1 miliar (avg 8.493), diikuti AK ±Rp60,6 miliar dan ZP ±Rp38,5 miliar. Sementara itu tekanan jual kembali datang dari broker seperti DX sekitar Rp54 miliar, XL ±Rp53,9 miliar, dan RF ±Rp53,5 miliar. Artinya, dalam satu minggu terakhir aliran saham masih berpindah dari sisi domestik/ritel ke pihak yang melakukan akumulasi.
Pada data harian 13 Februari 2026, pembelian masih dipimpin oleh CC sekitar Rp20,2 miliar, ZP ±Rp11,3 miliar, dan YU yang ikut mencatat beli sekitar Rp4,1 miliar, sementara tekanan jual muncul dari DX ±Rp14,7 miliar dan XL ±Rp12,4 miliar. Ini memperlihatkan bahwa bahkan pada skala harian, struktur transaksi tetap menunjukkan penyerapan oleh institusi ketika ritel melakukan distribusi.
Secara lebih panjang, pada rentang 13 Desember 2025 – 13 Februari 2026, akumulasi terlihat dari beberapa broker besar seperti LG sekitar Rp121,9 miliar, CC ±Rp117,2 miliar, dan AK ±Rp99 miliar. Di sisi lain, distribusi tercatat pada XL sekitar Rp141,1 miliar, YP ±Rp92,4 miliar, serta YU ±Rp61,3 miliar. Data ini memperlihatkan bahwa sempat terjadi fase distribusi, namun aliran beli institusi kembali muncul dan menjaga struktur akumulasi tetap berlanjut.
Dari sudut pandang order book, terlihat adanya antrian jual yang cukup tebal di area 8.900 – 8.975, sehingga level tersebut menjadi zona supply atau resistance jangka pendek. Meskipun demikian, rata-rata harga beli broker institusi cenderung meningkat dari kisaran 7.900 – 8.100 pada periode sebelumnya menjadi 8.300 – 8.500, yang menunjukkan bahwa pembeli besar berani menaikkan harga rata-rata masuk, bukan menekan harga turun.
Secara keseluruhan, data lintas timeframe menunjukkan bahwa akumulasi lebih banyak dilakukan oleh broker yang berafiliasi dengan institusi dan investor asing, sedangkan tekanan jual relatif berasal dari broker yang aktivitasnya menyerupai ritel. Perpindahan saham terlihat sebagai transfer kepemilikan dari domestik ke institusi, bukan distribusi besar oleh institusi. Namun proses ini belum selesai karena masih ada supply tebal di atas harga berjalan, sehingga fase yang terjadi lebih tepat disebut akumulasi bertahap yang masih berlangsung, bukan akumulasi yang sudah matang.
#DYOR #NFA #LAKUKANRESEACHMANDIRI $ADMR $ADRO
1/7






