Tempo hari ada yang bertanya ke saya, kenapa kok saya memandang bahwa rekam jejak restrukturisasi utang berulang dengan cara menukar utang obligasi dengan saham, apalagi kalau utangnya buat membiayai anak usaha yang nggak profitable, terus anak usahanya di-IPO-kan buat menutupi utang tersebut, lalu siklus dilusi kepemilikan shareholders dan pump ini diputar terus rinse and repeat, dengan narasi, "story growth-nya masih panjang," tanpa justifikasi bisnis selain, "mau dibeli asing," adalah red flag 馃毄馃毄馃毄
Nah ini penjelasan yang lebih gamblang
random tag $IHSG $BUMI $DEWA