Kecepatan dan Arah yang Terlupakan
Tampaknya ada kegembiraan yang sangat manusiawi saat kita melihat angka-angka di layar bergerak naik dengan cepat dalam waktu singkat. Sepertinya ada kepuasan tersendiri ketika sebuah pilihan yang terasa impulsif ternyata membuahkan hasil instan, seolah-olah kita telah menemukan rahasia untuk melompati proses yang panjang dan membosankan.
...Melompati proses?
Sepertinya ada daya tarik yang kuat untuk percaya pada angka-angka besar yang dijanjikan di masa depan—target-target tinggi yang membuat kita merasa sedang memegang tiket menuju perubahan hidup yang drastis. Rasanya sangat mendebarkan saat kita merasa sedang berjalan di 'jalur cepat' bersama orang-orang yang tampak begitu yakin.
Itu benar. Kalimat itu seperti kunci yang membuka pintu harapan. Siapa yang tidak tergoda oleh sebuah story yang indah? Siapa yang tidak merasa tenang mendengar ada orang-orang tepercaya di baliknya? Ini adalah bahasa yang membuat kita merasa ikut masuk ke dalam lingkaran dalam, merasa mendapat informasi yang tidak dimiliki orang lain. Dan ketika ditambah dengan bukti—harga yang terbang 20% dalam sehari, target 2000 dari harga 300—semakin sulit untuk tidak percaya bahwa FOMO yang dikelola dengan baik adalah sebuah keterampilan, bukan sebuah jebakan.
Namun, saya penasaran. Bagaimana perasaan Anda jika ternyata keyakinan pada angka-angka fantastis itu sebenarnya hanyalah cara untuk menutupi kenyataan bahwa kita tidak benar-benar tahu kapan lantai yang kita pijak akan runtuh?
...Kapan lantai akan runtuh?
Story yang Ditulis Siapa, untuk Siapa?
Ada cerita, dan ada dongeng pengantar tidur.
Cerita yang baik biasanya sederhana. Ia bisa dijelaskan dalam dua atau tiga kalimat oleh siapa pun yang memegang sahamnya. Ia tidak perlu bergantung pada tokoh-tokoh karismatik di belakang layar, karena bisnisnya sendiri yang berbicara.
Dongeng pengantar tidur, sebaliknya, selalu indah dan rumit. Penuh intrik, penuh tokoh misterius, penuh janji yang ditunda-tunda. Dan seperti dongeng pengantar tidur, fungsinya bukan untuk membangunkan, melainkan untuk membuat kita terlelap—lelap dari kenyataan bahwa yang kita pegang sebenarnya bukanlah kepemilikan bisnis, melainkan sebuah tiket lotre yang sedang dioper dari satu tangan ke tangan lain.
Ketika sebuah story hanya bisa diceritakan oleh segelintir orang yang diuntungkan olehnya, dan hanya masuk akal selama harga terus naik, maka story itu bukanlah fondasi. Ia adalah umpan.
Dan orang-orang di baliknya yang trusted? Dalam bisnis yang sehat, orang-orang di baliknya tidak perlu disembunyikan atau didramatisasi. Nama mereka tercetak di laporan tahunan, rekam jejak mereka bisa dilacak, dan konflik kepentingan mereka diatur oleh aturan. Ketika kepercayaan hanya bisa dibangun melalui bisikan di grup dan postingan di media sosial, kita mungkin perlu bertanya: trusted by whom, and for how long?
Membedakan Cerita dan Dongeng
Mungkin kita bisa membedakannya dengan satu pertanyaan sederhana: Apakah cerita ini masih indah jika saya mematikan layar selama setahun?
Karena pada akhirnya, cerita bisnis yang sejati tidak butuh tagar dan sorak-sorai. Ia bekerja diam-diam, mencetak laba, membayar dividen, dan nilainya tumbuh seiring waktu. Ia tidak akan mati hanya karena para penceritanya kehabisan bahan bakar untuk panggung berikutnya.
Tampaknya kita mulai menyadari perbedaan antara 'mendapatkan keuntungan karena kebetulan' dengan 'membangun kekayaan karena pemahaman'. Sepertinya ada pengakuan yang mulai muncul dalam diri kita: bahwa sebuah cerita yang terdengar sangat meyakinkan tidak selalu berarti bisnis di baliknya benar-benar memiliki nilai yang sebanding. Ada ketenangan yang berbeda saat kita tidak lagi perlu bergantung pada harapan bahwa harga akan terbang ke langit, karena kita sudah tahu persis berapa nilai nyata dari apa yang kita miliki di bumi.
...Nilai nyata di $BUMI?
Ada sebuah kelegaan yang mulai tumbuh: saat kita tidak lagi merasa perlu mengejar setiap lonjakan yang terjadi dalam satu hari, karena kita lebih memilih untuk memiliki sesuatu yang kualitasnya tetap terjaga dalam bertahun-tahun. Kita mulai memahami bahwa kedaulatan finansial bukan tentang seberapa berani kita bertaruh pada angka-angka imajiner, melainkan seberapa cerdas kita menjaga hasil kerja keras kita dari janji-janji yang sering kali menguap saat kenyataan datang menyapa.
Sepertinya kita semua sedang belajar bahwa pertumbuhan yang sesungguhnya tidak butuh teriakan atau target yang muluk-muluk, melainkan butuh fondasi yang cukup kuat untuk menahan beban di saat badai datang tanpa peringatan.
Jadi, di tengah riuhnya tagar dan target harga yang terus diperbarui, mungkin ada satu hal yang layak kita tanyakan pada diri sendiri:
"Jika semua orang yang bercerita tentang saham ini tiba-tiba diam besok, akankah saya masih bisa tidur nyenyak memegangnya?"
Jika pada akhirnya setiap lonjakan harga akan selalu mencari titik keseimbangannya kembali pada nilai bisnis yang sebenarnya, bagaimana cara Anda memastikan bahwa apa yang Anda sebut sebagai kemenangan hari ini bukan sekadar pinjaman dari pasar yang sewaktu-waktu bisa ditarik kembali dengan bunga yang jauh lebih besar?
$ADRO $ANTM
