Masih pada inget ga beberapa bulan sebelum kegaduhan MSCI ini, Robinhood menyatakan mau masuk ke market Indonesia.
Robinhood ini sangat terkenal di negara asalnya, Amerika Serikat, karena trading fee nya 0. Iya, gratis.
Kenapa bisa gratis?
Karena mereka menggunakan sistem PFOF (Payment for Order Flow).
Apa itu PFOF?
Sederhananya bid-ask yang dipasang oleh retail tidak dieksekusi secara langsung ke bursa, melainkan “dioper” dulu ke market maker gede untuk mereka eksekusi.
Nanti market maker bakal bermain di spread bid-ask yang akan diambil sebagai revenue market maker.
Nah lewat mekanisme ini, justru market maker yang akan membayar Robinhood atas bid-ask yg dioper, dari bayaran inilah sumber revenue utama Robinhood.
Kenapa mesti bahas PFOF?
Ini jadi penting karena diferensiasi sekaligus kekuatan Robinhood ada di sini dan itu cara mereka menjebol persaingan antar broker dengan memberikan 0 trading fee.
Masalahnya, PFOF itu sangat sulit diimplementasikan di IHSG, terlepas dari segi regulasi.
Secara teknis, syarat utama PFOF itu bisa diimplementasi adalah market punya likuiditas tinggi.
Likuiditas tinggi secara sederhana bisa ditranslasikan sebagai volume perdagangan yang tinggi serta actual free float yang juga cukup tinggi.
Balik ke pembahasan MSCI, mereka tiba-tiba mengeluarkan surat yang mempermasalahkan likuiditas termasuk actual free float emiten-emiten yang ada di IHSG beberapa bulan setelah Robinhood menyatakan rencana masuk ke pasar Indonesia.
Saya tidak bicara soal konspirasi hubungan antara Robinhood dengan MSCI karena saya tidak punya akses untuk memvalidasi hal tersebut.
Tapi yang pasti, jika regulator Indonesia mampu memenuhi apa yg dituntut oleh MSCI maka itu juga akan menjadi pintu lebar bagi Robinhood untuk menjalankan bisnisnya di Indonesia.
MSCI jalan.
Robinhood juga jalan.
Bayangkan akan seberapa bullish nantinya jika kepercayaan asing ke bursa kita sudah kembali.
Random tag
$ADRO $PTRO $BBCA