#136
Min, 15 Feb 2026
Saya harap ini bisa trending ☕
Selamat Membaca ✍️
Media Sosial Penghancur Diam-diam Generasi, dan Bayangannya di Dunia Pasar Modal
Di pagi yang masih sepi, ketika cahaya pertama menyusup melalui jendela, seorang anak membuka ponsel sebelum matahari sepenuhnya terbit.
Bukan untuk membaca buku, bukan untuk belajar pelajaran sekolah, melainkan untuk menyelam ke dalam arus tak berujung: video pendek yang lucu, gosip yang menggelitik, tantangan yang mengundang tawa sesaat, atau kontroversi yang memicu amarah kilat.
Konten yang mendominasi bukanlah yang membangun pikiran atau karakter, melainkan yang mampu menahan perhatian hanya dalam hitungan detik.
Ini bukan sekadar perubahan selera.
Ini adalah perubahan bentuk pikiran generasi muda.
Konten yang paling viral bukan lagi yang mendidik atau menginspirasi, melainkan yang memicu emosi instan: tawa cepat, iri hati, kemarahan sesaat, atau rasa “gue harus ikut”.
Konten tentang literasi keuangan, sejarah bangsa, nilai keluarga, atau pemikiran mendalam?
Jarang muncul di layar utama. Kalau pun muncul, ia kalah pamor dengan video 15 detik yang dirancang untuk membuat pengguna terus scroll.
Studi-studi terkini mengonfirmasi apa yang kita rasakan secara intuitif:
• Penelitian Karolinska Institutet (Desember 2025) menemukan bahwa paparan media sosial berlebih pada anak usia 10–14 tahun berkorelasi dengan penurunan bertahap kemampuan konsentrasi dan perhatian berkelanjutan.
• JAMA Pediatrics (Oktober 2025) melaporkan bahwa anak dengan penggunaan media sosial tinggi menunjukkan skor tes membaca, kosa kata, dan memori lebih rendah 1–5 poin dibandingkan kelompok yang minim paparan.
• Buku The Anxious Generation (Jonathan Haidt) menggambarkan fenomena ini sebagai “great rewiring of childhood”: otak anak dibentuk ulang oleh stimulasi cepat, sehingga kemampuan untuk berpikir dalam, sabar, dan merefleksikan menjadi semakin langka.
Generasi ini tidak “bodoh”.
Mereka hanya sedang dibentuk oleh mesin yang tidak dirancang untuk membangun karakter, melainkan untuk menahan perhatian secepat dan selama mungkin.
Hasilnya adalah generasi yang mudah bosan, mudah terpengaruh, mudah emosional, dan sulit fokus pada hal-hal yang membutuhkan waktu serta usaha panjang.
Yang paling menyedihkan: ketika suatu bangsa ingin dihancurkan, cara paling efektif dan senyap adalah merusak generasinya terlebih dahulu.
Bukan dengan kekerasan fisik, melainkan dengan membuat mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis, kesabaran, visi jangka panjang, dan ketahanan emosional.
Konten negatif, sensasional, dan dangkal yang mendominasi media sosial sedang melakukan itu tanpa suara ledakan, tanpa darah, tapi dengan dampak yang jauh lebih dalam dan lama.
Bayangannya di Pasar Modal
Generasi yang terlatih pada stimulasi instan dan validasi cepat ini kini memasuki pasar saham dalam jumlah besar.
Data BEI per Januari 2026 menunjukkan jumlah Single Investor Identification telah melampaui 21 juta, dengan mayoritas adalah ritel muda.
Mereka tidak datang dengan pola pikir investor jangka panjang.
Mereka datang dengan pola pikir yang sama seperti scroll feed: cepat untung, cepat viral, cepat diakui.
Akibatnya terlihat jelas:
• FOMO yang ekstrem: “Semua orang bilang ini naik ratusan persen, saya ketinggalan kalau tidak ikut!”
• Hype mengalahkan analisa: konten “pump” di grup Telegram, Facebook, atau live IG menjadi sinyal beli utama, bukan laporan keuangan.
• Kurangnya kesabaran: saham blue chip dengan fundamental kuat tapi stagnan selama 1–2 tahun ditinggalkan, sementara saham spekulatif yang naik cepat diburu tanpa mempertimbangkan risiko.
• Emosi mendominasi: panic sell saat merah besar, greed buy saat hijau gila, tanpa ruang untuk refleksi atau prinsip.
Hasilnya adalah kerugian besar di saham gorengan, manipulasi pasar (seperti kasus-kasus 2026 yang sedang diselidiki), portofolio hancur karena trading impulsif, dan akhirnya hilangnya kepercayaan pada pasar modal itu sendiri padahal saham adalah salah satu alat paling ampuh untuk membangun kekayaan jangka panjang bagi generasi muda.
Media sosial tidak hanya merusak perhatian dan kesehatan mental.
Ia juga merusak potensi finansial generasi ini: mengganti kesabaran dengan impulsivitas, analisa mendalam dengan sensasi viral, visi masa depan dengan keinginan instan.
Jalan Keluar yang Masih Terbuka
Kita tidak perlu menyalahkan teknologi atau algoritma sepenuhnya.
Kita bisa memilih untuk tidak menjadi korban.
Mulailah dengan langkah kecil:
• Batasi waktu layar: maksimal 30–60 menit sehari untuk media sosial hiburan.
• Kurasi feed: unfollow akun yang hanya sensasi atau drama, ikuti yang memberikan nilai nyata.
• Buat aturan pribadi: “Saya tidak akan membeli saham hanya karena sedang trending atau karena orang lain bilang ‘to the moon’.”
• Latih kesabaran: ingatkan diri bahwa investasi adalah maraton, bukan sprint. Yang menang bukan yang paling cepat untung, melainkan yang paling lama bertahan dengan prinsip benar.
Generasi kita sedang diuji.
Apakah kita akan membiarkan algoritma membentuk pikiran dan keputusan kita?
Atau kita memilih menjadi generasi yang sadar, sabar, dan mampu membangun masa depan dengan bijak baik di kehidupan sehari-hari maupun di pasar saham.
Pilihan ada di tangan kita.
— Hazn Store
Rantag : $IHSG $INDS $RLCO
