#27 Pasar Bisa Salah, Tapi Tidak Perlu Dilawan
Saya pernah berada di fase di mana setiap kali merasa pasar salah, dorongan pertama saya adalah melawannya. Jika harga bergerak berlawanan dengan keyakinan saya, saya justru menambah posisi dengan emosi, seolah ingin membuktikan bahwa saya benar dan pasar keliru. Ada rasa bangga aneh ketika melawan arus, seakan itu tanda kecerdasan. Tapi kenyataannya, semakin keras saya melawan, semakin besar energi yang terkuras—dan hasilnya jarang seindah yang saya bayangkan.
Pengalaman mengajarkan bahwa pasar memang bisa salah, terutama dalam jangka pendek. Ia bisa bereaksi berlebihan, salah membaca sentimen, atau terjebak narasi sementara. Namun kesalahan pasar tidak otomatis menjadi undangan untuk berkonfrontasi. Dulu saya menyamakan keyakinan dengan keharusan bertindak. Padahal, keyakinan tidak selalu menuntut aksi. Ada perbedaan besar antara memahami bahwa pasar keliru dan merasa wajib “menghukum” pasar karena itu.
Perlahan saya belajar mengubah sikap. Ketika pasar terlihat salah, saya berhenti mengambilnya secara personal. Saya kembali ke pertanyaan yang lebih tenang: apakah alasan saya berinvestasi masih relevan, dan apakah risiko yang saya ambil masih masuk akal? Jika iya, saya memilih menunggu tanpa melawan. Jika tidak, saya menyesuaikan langkah tanpa drama. Ternyata, tidak melawan bukan berarti menyerah—sering kali itu justru bentuk disiplin yang lebih dewasa.
Hari ini, saya menerima bahwa pasar bisa salah, tapi tidak perlu dilawan. Ia akan bergerak sesuai waktunya sendiri, dengan atau tanpa persetujuan saya. Tugas saya bukan memenangkan perdebatan dengan pasar, melainkan menjaga agar keputusan saya tetap selaras dengan proses dan kemampuan saya bertahan. Sejak berhenti melawan, investasi terasa lebih ringan. Bukan karena pasar selalu benar, tapi karena saya tidak lagi memaksakan diri untuk selalu menang.
$IHSG $MARK $LSIP
