Jesse Lauriston Livermore (1877–1940)

https://cutt.ly/Ntmbs2mj
Salah satu legenda paling terkenal dalam sejarah trading saham—sering disebut sebagai “the greatest stock trader who ever lived” oleh banyak orang, walau hidupnya juga tragis.
Dia bukan cuma terkenal karena uang yang dia hasilkan, tapi karena cara berpikirnya: disiplin, membaca pergerakan harga, dan memahami psikologi pasar.

Banyak prinsip trading modern (bahkan yang dipakai trader hari ini) akarnya bisa ditarik ke Livermore.
1) Siapa Jesse Livermore itu?
Livermore adalah trader asal Amerika, hidup di era: akhir abad 19 sampai awal abad 20
(era pasar saham masih liar, regulasi belum seketat sekarang)

Dia terkenal karena, trading berdasarkan pergerakan harga (price action), memahami momentum, berani ambil posisi besar kalau sudah yakin, sangat fokus pada trend, Livermore bukan tipe “investor jangka panjang” seperti Warren Buffett, lebih cocok disebut speculator (spekulan profesional)

2) Awal hidupnya
Dari anak miskin jadi trader, Livermore lahir di keluarga miskin di Massachusetts, ayahnya ingin dia jadi petani, tapi Livermore benci kehidupan itu, di umur sekitar 14 tahun, dia kabur ke Boston dan kerja sebagai pencatat harga saham (quote boy) tugasnya simpel, menulis harga saham yang bergerak, update papan harga, tapi di situ dia belajar hal yang luar biasa, seperti harga saham punya pola, dan manusia bereaksi dengan cara yang berulang.

3) Livermore kaya dari “bucket shop”
Zaman dulu ada yang namanya bucket shop, Bucket shop itu tempat orang “taruhan” pergerakan harga saham, tapi bukan benar-benar beli saham mirip seperti trading CFD/derivatif zaman sekarang (kasarnya) dii situ Livermore jadi monster. Dia menang terus karena dia baca pola pergerakan harga
dia tahu kapan harga mulai “lari” dia punya disiplin stop loss (walau tidak selalu), karena terlalu sering menang, dia sampai di-blacklist dari banyak bucket shop.

4) Gaya trading Jesse Livermore (inti pemikirannya), Ini yang bikin dia abadi, sbb;

A. Dia trading mengikuti trend
Prinsipnya, “Uang besar bukan didapat dari beli-jual cepat, tapi dari duduk diam di trend besar.” Kalau harga sudah naik dan menunjukkan kekuatan, dia ikut naik.
Kalau harga turun dan menunjukkan kelemahan, dia ikut turun (short selling).

B. Dia percaya “market selalu benar”
Livermore bukan orang yang debat dengan market. Dia percaya, kalau harga bilang turun, ya turun, kalau harga bilang naik, ya naik.

C. Dia masuk pelan, tambah posisi saat benar
Ini konsep modern banget.
Pyramiding, artinya: masuk kecil dulu, kalau market bergerak sesuai prediksi → tambah posisi, kalau market salah → cut loss cepat

D. Dia anti averaging down
Ini salah satu prinsip paling keras dari Livermore: “Jangan tambah posisi pada saham yang sedang rugi.” Karena menurut dia, kalau harga turun, berarti kamu salah, tambah posisi itu artinya memperbesar kesalahan.

E. Dia paham psikologi massa
Livermore percaya pasar digerakkan oleh: ketakutan, keserakahan, harapan, ego dan itu selalu berulang, Makanya, dia sering bilang kurang lebih begini: “Pasar tidak pernah berubah, yang berubah cuma pemainnya.”

5) Prestasi paling terkenal: “The Panic of 1907”
Di tahun 1907 terjadi krisis besar di Amerika.
Livermore melakukan short besar-besaran dan konon menghasilkan, sekitar 1 juta dolar (zaman itu), kalau disetarakan hari ini, itu setara puluhan juta dolar.
Dia jadi terkenal sebagai, trader yang “mencium kehancuran” lebih cepat dari orang lain.

6) Puncak kejayaan: Crash 1929 (The Great Depression)
Momen paling ikonik, pada tahun 1929, pasar saham Amerika jatuh brutal (awal Depresi Besar). Livermore lagi-lagi melakukan short besar, konon dia menghasilkan:
sekitar 100 juta dolar, di zaman itu, angka ini gila, dia termasuk salah satu orang terkaya di Amerika pada masanya.

7) Tapi kenapa hidupnya tragis?
Nah ini bagian yang bikin Livermore bukan sekadar “kisah sukses”. Walaupun dia beberapa kali jadi sangat kaya, dia juga beberapa kali bangkrut, kehilangan segalanya, memulai lagi dari nol, kenapa bisa begitu.

Livermore juga manusia, kadang melanggar sistemnya sendiri, kadang terlalu percaya diri, kadang trading berdasarkan emosi, kadang ikut rumor / manipulasi pihak besar. Dia punya kelemahan yang sama seperti trader lain, ketika dia disiplin → dia jadi legenda, ketika dia melenceng → dia hancur.

8) Kehidupan pribadinya juga kacau
Dia mengalami, masalah rumah tangga, tekanan mental, konflik sosial, rasa kesepian. Ada cerita bahwa Livermore, sulit percaya orang, mudah merasa dikhianati, hidupnya penuh ketegangan, cukup tragis ya, tapi begitu realitanya.

9) Kenapa Jesse Livermore bunuh diri?
Livermore bunuh diri tahun 1940, penyebab pastinya kompleks, tapi secara umum, tekanan finansial (dia kembali jatuh), depresi dan kelelahan mental, konflik hidup pribadi, rasa hampa.

Ini yang penting, Livermore punya kemampuan luar biasa membaca pasar, tapi dia tidak berhasil “mengelola dirinya sendiri” sampai akhir dia bunuh diri.

10) Buku yang membuat Livermore makin legendaris
Ada buku yang sangat terkenal: Reminiscences of a Stock Operator (1923),penulisnya Edwin Lefèvre, ini bukan autobiografi murni, tapi tokoh utamanya, “Larry Livingston” jelas terinspirasi dari Jesse Livermore, buku ini dianggap “kitab suci” trader, karena berisi: cara berpikir Livermore
psikologi pasar, kesalahan-kesalahan trader
cara disiplin menghadapi market.

11) Warisan Jesse Livermore untuk trader modern
Kalau dirangkum, warisannya itu: Ikuti trend, jangan melawan market, cut loss cepat, biarkan profit bertumbuh, tambah posisi hanya ketika benar, jangan trading karena ego, kesabaran lebih mahal dari strategi, yang paling susah bukan membaca chart, tapi mengendalikan diri.

12) Livermore itu legenda yang “mengajarkan realita”
Livermore adalah contoh paling nyata bahwa:
bisa jadi jenius di market, tapi tetap bisa kalah oleh: emosi, kesepian, tekanan hidup, ketidakstabilan mental. Makanya, kisahnya terasa sangat manusiawi.

$IDXQ30 $LQ45 $IHSG

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy