imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

#22 Memisahkan Harga Saham dari Harga Diri

Saya pernah tanpa sadar mengikat harga saham dengan harga diri saya sendiri. Ketika portofolio hijau, saya merasa lebih percaya diri. Ketika memerah, perasaan saya ikut runtuh. Seolah-olah grafik di layar bukan sekadar angka, tapi penilaian atas kecerdasan dan kemampuan saya sebagai investor. Setiap penurunan terasa personal, dan setiap kerugian seperti pengakuan bahwa saya tidak cukup baik. Di fase itu, investasi tidak lagi soal keputusan, tapi soal emosi.

Perlahan saya menyadari betapa berbahayanya kebiasaan itu. Harga saham bergerak karena banyak faktor yang berada di luar kendali saya. Namun saya membiarkan pergerakan itu menentukan suasana hati dan rasa percaya diri. Saya mulai bersikap defensif, sulit menerima kritik, dan enggan mengevaluasi keputusan secara jujur. Bukan karena saya tidak tahu caranya, tapi karena saya terlalu takut jika evaluasi itu menguatkan perasaan gagal yang sudah lebih dulu muncul.

Titik baliknya datang ketika saya berhenti menilai diri sendiri dari hasil jangka pendek. Saya mulai melihat investasi sebagai rangkaian keputusan, bukan vonis atas siapa saya. Satu keputusan bisa salah tanpa menjadikan saya orang yang salah. Satu periode buruk tidak membatalkan seluruh proses belajar. Dengan memisahkan harga saham dari harga diri, saya memberi ruang untuk berpikir lebih jernih dan bertindak lebih rasional.

Hari ini, saya masih bisa merasa kecewa ketika hasil tidak sesuai harapan. Tapi saya tidak lagi membiarkannya merembes ke cara saya memandang diri sendiri. Saya belajar bahwa pasar tidak pernah menilai kita sebagai pribadi. Ia hanya bereaksi terhadap informasi dan emosi kolektif. Ketika harga saham berhenti menjadi cermin harga diri, investasi kembali menjadi proses yang sehat—tempat belajar, bertumbuh, dan mengambil keputusan tanpa beban yang tidak perlu.

$IHSG $ULTJ $DLTA

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy